Minggu, 07 Agustus 2016

MATERI KULIAH BAHASA INDONESIA FC FILE (Hamdani, S.Pd. adalah Guru MAN Lhokseumawe).

BAB I
BAHASA INDONESIA DALAM SUATU TINJAUAN TEORITIS

1.1 Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Seminar politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan pada Februari 1975, memutuskan kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia sebagai berikut:
a) Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional.
b) Bahasa Indonesia sebagai lambang identitas nasional.
c) Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial, budaya, dan bahasa.
d) Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat penghubung antar daerah dan antar budaya.

1.2 Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara
Sedangkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Bahasa resmi kenegaraan.
b) Bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan.
c) Alat penghubung pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan.
d) Alat pengembangan kebudayaan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.3 Ragam Bahasa Indonesia
a) Ragam Daerah atau Ragam Dialek
Ragam patokan daerah, lazim dikenal dengan dialek/logat. Ragam ini digunakan sekelompok masyarakat dari suatu wilayah atau daerah tertentu. Misalnya dialek Medan, Jawa, Sunda, dan Aceh.
b) Ragam Sosiolek
Ragam sosiolek adalah ragam bahasa yang mencerminkan pribadi sosial pengguna bahasa. Seorang yang berpendidikan tinggi tentu berbeda ragam dalam pemakaian bahasa dengan orang yang berpendidikan rendah. Begitu juga jika kita membandingkan bahasa yang digunakan oleh para pekerja pelabuhan dan calo di terminal. Bahasa yang digunakan oleh cerdik pandai umumnya lebih bagus dan piawai. Mereka yang pernah mengecap pendidikan dapat membedakan pengucapan kata-kata seperti: folio, film, apotek, dan fitnah. Mereka dapat menganalisis kebenaran sesuai dengan konteks kalimat atau kebakuan kata. Folio sebagai jenis kertas atau polio yang merupakan jenis penyakit sesuai dengan konteks kalimat yang diinginkan. Demikian juga kata film adalah jenis kata yang baku bukan filem. Begitu juga kata apotek, termasuk kata baku, karena toko obat disebut sebagai apoteker bukan apotiker. Sedangkan mereka yang tidak pernah belajar bahasa akan semena-mena mengucapkan kata-kata seperti: pilem/pilm, pitnah dan lain-lain (Yamilah dan Samsoerizal, 1994:10).
c) Ragam Fungsiolek
Ragam berdasarkan sikap penutur mencakup daya ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan: kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan karya ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam pengungkapannya.
d) Ragam Lisan dan Tulis
Ragam lisan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Memanfaatkan alat ucap dengan bantuan intonasi, mimik, dan gerak-gerik anggota tubuh.
2. Komunikasi berlangsung secara tatap muka.
Ragam bahasa tulis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menggunakan ejaan dalam penyampaian informasi.
2. Komunikasi berlangsung secara non tatap muka.
Ragam bahasa lisan, dalam kegiatan sehari-hari terwujud melalui:
1) Ragam percakapan.
2) Ragam pidato.
3) Ragam kuliah.
Sedangkan ragam bahasa tulis dapat dilihat pada penggunaan:
1) Ragam teknis.
2) Ragam undang-undang.
3) Ragam catatan.
4) Ragam surat-menyurat.
e) Ragam Baku dan Tidak Baku
Ragam bahasa baku (standar) memiliki sifat; kemantapan, dinamis, kecendikiaan, dan keseragaman. Ragam baku adalah ragam (konvensional) yang telah disepakati bersama dan terkumpul dalam Tata Bahasa Baku.

1.4 Ejaan Bahasa Indonesia
Ejaan dalam bahasa tulis. Di dalamnya berisi kaidah yang mengatur;
a) bagaimana menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran, dan
b) bagaimana hubungan antar lambang-lambang itu baik pemisahan atau penggabungan dalam suatu bahasa. Secara teknis ejaan dimaksud sebagai cara penulisan huruf, penulisan kata, penulisan kalimat, dan penulisan tanda-tanda baca atau pungtuasi.
Ejaan yang pernah dirumuskan untuk kepentingan tulis-menulis di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Ejaan Van Ophuysen (1901).
2. Ejaan Soewandi (1947).
3. Ejaan Pembaharuan (1957).
4. Ejaan Melayu-Indonesia/Melindo (1959).
5. Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan/LBK (1966).
6. Ejaan Yang Disempurnakan (17 Agustus 1972).

1.5 Jenis-Jenis Karya Tulis (Wacana)
Berdasarkan wacana karangan dapat dikelompokkan sesuai dengan jenis isi dan tujuannya, dikenal beberapa jenis wacana yaitu:
1. Deskripsi
Deskripsi atau pelukisan adalah jenis karya tulis yang berupaya melukiskan sesuatu dengan keadaan sebenarnya, sehingga dapat mencitrai (melihat, mendengar, mencium, dan merasakan) apa yang dicitrakan penulis kepada pembaca.
2. Eksposisi
Eksposisi atau paparan adalah jenis karya tulis yang berusaha menjelaskan pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembaca.
3. Persuasi
Persuasi atau bujukan merupakan jenis karya tulis bertujuan membujuk, mempengaruhi pembaca dengan cara mengemukakan argumentasi disertai data atau fakta. Itulah sebabnya persuasi ditulis dalam bentuk artikel, makalah, hingga ke orasi ilmiah.
4. Argumentasi
Argumentasi adalah sebuah karya tulis yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan. Data atau fakta dalam argumentasi digunakan sebagai penguat alasan.
5. Narasi
Narasi atau cerita adalah jenis karya tulis yang berkenaan dengan rangkaian peristiwa. Rangkaian itu dapat disusun menurut urutan waktu (kronologis).
Latihan dan Soal
1. Sebutkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negera !
2. Sebutkan ejaan-ejaan yang pernah digunakan (diberlakukan) di Indonesia untuk kepentingan tulis-menulis !
3. Sebutkan jenis-jenis wacana beserta contohnya masing-masing dalam bentuk paragraf !

BAB II
TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH
2.1 Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika pun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuan (mahasiswa) bukan sekadar menjadi penerima ilmu. Akan tetapi sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu. Dengan demikian, tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah.
Istilah karya ilmiah di sini adalah mengacu kepada karya tulis yang penyusunan dan penyajiannya didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Dilihat dari panjang pendeknya atau kedalaman uraian, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper) dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu didahului oleh studi pustaka dan studi lapangan (Azwardi, 2008:111).
Sementara itu, Yamilah dan Samsoerizal (1994:90) memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu, dikenal ragam karya ilmiah seperti; makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

2.2 Sikap Ilmiah
Ada tujuh sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh setiap penulis atau peneliti berdasarkan pendapat Istarani (2009:4) yaitu: sikap ingin tahu, sikap kritis, sikap terbuka, sikap objektif, sikap menghargai karya orang lain, sikap berani mempertahankan kebenaran, dan sikap menjangkau ke depan.

2.3 Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis. Karangan ilmiah bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan kebenaran fakta.
Ciri-ciri karya ilmiah menurut Alamsyah (2008:99) adalah sebagai berikut:
(1) merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif ). Artinya, faktanya sesuai dengan yang diteliti,
(2) bersifat methodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi,
(3) tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah harus baku dan formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak ambigu (ganda).

2.4 Manfaat Penulisan Karya Ilmiah
Ada beberapa manfaat penulisan karya ilmiah adalah sebagai berikut:
 (1) penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif, karena sebelum menulis karya ilmiah, penulis harus membaca dulu,
(2) penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber dan mengembangkan ke tingkat pemikiran yang lebih matang,
(3) penulis akan terasa akrab dengan kegiatan perpustakaan, seperti bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku,
(4) penulis akan dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis,
(5) penulis akan memperoleh kepuasan intelektual, dan
 (5) penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat (Istarani, 2009:5).

2.5 Prinsip-Prinsip Penulisan Karya Ilmiah
Prinsip-prinsip umum yang mendasari penulisan sebuah karya ilmiah adalah:
1. Objektif, artinya setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta. Kegiatan ini disebut studi empiris. Objektif dan empiris merupakan dua hal yang bertautan.
2. Prosedur atau penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif.
3. Rasio dalam pembahasan data. Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis.

2.6 Tema Karya Ilmiah
Dalam menulis karya ilmiah, penulis hendaklah mengangkat tema-tema yang aktual dan bukan suatu tema yang sudah basi dan kusam. Tema merupakan amanat atau pesan-pesan yang dapat dipetik dari karangan. Rumusan dari simpulan yang berupa pesan-pesan pengarang itulah yang disebut tema.
Sebuah tema yang baik adalah harus menarik perhatian penulis sendiri. Apabila penulis senang dengan pokok pembicaraan yang ingin dikarang tentu seorang pengarang dalam keadaan senang atau tidak dalam keadaan terpaksa. Selain menarik perhatian, tema yang hendak ditulis terpahami dengan baik oleh penulis.
Selain tema dalam setiap tulisan ilmiah juga harus memiliki topik. Ada sebagian orang menyamakan antara topik dengan tema. Ternyata pendapat itu keliru. Topik adalah pokok pembicaraan yang ingin disampaikan dalam karangan.
Rambu-rambu yang harus diketahui dan dipahami oleh seorang penulis untuk menentukan dan memilih topik yang baik adalah sebagai berikut:
(1) Topik sebaiknya aktual.
(2) Topik sebaiknya berasal dari dunia atau bidang kehidupan yang akrab dengan penulis.
(3) Topik sebaiknya memiliki nilai tambah atau memiliki arti yang penting, baik bagi penulis sendiri atau bagi orang lain.
(4) Topik sebaiknya selaras dengan tujuan pengarang dan selaras dengan calon pembaca.
(5) Topik sebaiknya asli, bukan pengulangan atas hal yang sama yang pernah disajikan oleh orang lain.
(6) Topik sebaiknya tidak menyulitkan pencarian data, bahan, dan informasi lain yang diperlukan.

2.7 Tahapan Umum Penulisan Karya Ilmiah
Tahap persiapan mencakup kegiatan menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Masalah yang ditemukan itu didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah. Langkah berikutnya mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis.
Langkah selanjutnya adalah mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan. Metodologi dalam tahap persiapan penulisan karya ilmiah juga diperlukan. Metodologi mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data. Kemudian tahap penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai. Terakhir adalah tahap penyuntingan dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.

2.8 Bahasa Karya Ilmiah
Bahasa memegang peranan penting dalam penulisan karya ilmiah. Oleh sebab itu pemahaman tentang diksi (pilihan kata atau seleksi kata, bahasa Inggris; diction), istilah, kalimat, penyusunan paragraf, dan penalaran yang diungkapkan harus dikuasai peneliti. Selain itu, penulisan karya ilmiah harus mengacu pada Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan sesuai dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal.
Di sisi lain, bahasa merupakan alat yang cukup penting dalam karangan ilmiah. Langkah pertama dalam menulis karya ilmiah yang baik adalah menggunakan tata bahasa yang benar (Suriasumantri, 1986:58). Apabila bahasa kurang cermat dipakai, karangan bukan saja sukar di pahami, melainkan juga mudah menimbulkan salah pengertian. Bahasa karangan yang kacau menggambarkan kekacauan pikiran penulis (Surakhmat dalam Finoza, 2006:215).
Dalam menulis karya ilmiah penulis juga diharapkan mampu menggunakan bahasa secara cermat. Sajikan ide-ide secara urut sehingga pokok-pokok pikiran dan konsep tersusun secara koheren. Gunakan ungkapan yang ekonomis sehingga tidak terjadi pengulangan ide atau penggunaan kata-kata yang berlebihan. Selain itu, gunakan ungkapan halus (smooth), agar pembaca dapat mengikuti alur pembahasan dengan mudah. Gaya kalimat jangan seperti puitis dan perhatikan penulisan secara benar dan baku.

2.9 Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah
Dalam penggunaan bahasa terdapat beberapa ragam bahasa. Sugono (1999:10) berpendapat bahwa berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa jurnalistik.
Yamilah dan Samsoerizal (1994:10) mengklasifikasikan ragam bahasa dengan nama istilah ragam fungsiolek. Ragam fungsiolek adalah ragam berdasarkan sikap penutur mencakup daya ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan: kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan karya ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam pengungkapannya. Bahasa ragam karya ilmiah memiliki karakteristik tersendiri yaitu : singkat, padat, sederhana, lugas, lancar, dan menarik.
Selain itu, gaya penulisan karya ilmiah hendaknya memiliki kejelasan, reproduktif, dan impersonal. Kejelasan dimaksudkan bahwa setiap karya ilmiah harus mampu menyampaikan informasi kepada pembaca tentang objek penelitiannya secara gamblang. Kegamblangan ini dibicarakan sebagai foto kopi dari aslinya. Inilah yang dimaksud dengan reproduktif. Sedangkan impersonal berarti peniadaan kata ganti perorangan seperti: saya atau peneliti. Misalnya: Adapun masalah yang akan diteliti mencakup, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan penelitian. Pada posisi kata impersonal “diteliti” tidak boleh menggunakan kata saya atau peneliti.

2.10 Tertib Mengutip
Dalam tradisi mengarang ilmiah berlaku mengutip pendapat orang lain. Karya ilmiah pada umumnya merupakan hasil pengamatan atau penelitian yang merupakan lanjutan dari penelitian yang terdahulu. Dengan kata lain, hasil-hasil penelitian orang lain, pendapat ahli, baik yang dilisankan maupun yang dituliskan dapat digunakan sebagai rujukan untuk memperkuat uraian atau untuk membuktikan apa yang dibentangkan (Walija, 1996:125). Dalam dunia tulis menulis ilmiah ada dua macam jenis kutipan, yaitu: kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung dalam pengutipannya harus diberi tanda kutip (“… “). Sedangkan kutipan tidak langsung tidak diberikan tanda kutip. Namun, kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung dalam tertib mengutip harus diberikan tanda dengan catatan kaki (footnotes).
Catatan kaki adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan uraian (teks) yang ditulis di bagian bawah halaman yang sama. Apabila keterangan semacam ini disusun dibagian akhir karangan biasanya disebut keterangan saja. Catatan kaki bukan hanya untuk menunjukkan sumber kutipan, melainkan juga dipergunakan untuk memberikan keterangan tambahan terhadap uraian atau teks.
Ada beberapa prinsip mengutip, yaitu: (1) tidak mengadakan perubahan, (2) memberitahu bila sumber kutipan mengandung kesalahan, (3) memberitahu bila melakukan perbaikan, dan (4) memberitahu bila menghilangkan bagian-bagian tertentu yang ada didalam kutipan.

2.11 Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar sejumlah buku acuan atau referensi yang menjadi bahan utama dalam suatu tulisan ilmiah. Selain buku, majalah, surat kabar, catatan harian, dan hasil pemikiran ilmuan juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam menulis. Walija (1996:149) mengatakan bahwa daftar pustaka atau bibliografi adalah daftar buku atau sumber acuan lain yang mendasari atau menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan karangan. Unsur-unsur pada daftar pustaka hampir sama dengan catatan kaki. Perbedaannya hanya pada daftar pustaka tiada nomor halaman.

Unsur-unsur pokok daftar pustaka adalah sebagai berikut:
A. Buku sebagai Bahan Referensi
1) Nama pengarang, diurutkan berdasarkan huruf abjad (alfabetis). Jika nama pengarang lebih dari dua penggal nama terakhir didahulukan atau dibalik.
2) Tahun terbit buku, didahulukan tahun yang lebih awal jika buku dikarang oleh penulis yang sama.
3) Judul buku, dimiringkan tulisannya atau digaris bawahi.
4) Data publikasi, penerbit, dan tempat terbit.
5) DAFTAR PUSTAKA ditulis dengan huruf kapital semua dan menempati posisi paling atas pada halaman yang terpisah.
Contoh penulisan daftar pustaka buku sebagai referensi:
Hamdani. 2011. Cerdas Berbahasa Indonesia. Lhokseumawe: Unimal Press.
Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.
Mulya, Hamdani. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Lhokseumawe: STAIN Malikussaleh.

Namun, jika bahan rujukan atau acuan dalam daftar pustaka yang bersumber dari internet ditulis sesuai dengan aturannya tersendiri berdasarkan pendapat Alamsyah (2008:119) sebagai berikut:
B. Rujukan dari Internet Berupa Artikel dari Jurnal
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti oleh tahun, judul karya (dicetak miring) dengan diberikan keterangan dalam kurung (Online), volume dan nomor, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), jilid 5, No 4, (http://www.malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).

C. Rujukan dari Internet Berupa E-mail Pribadi
Nama pengirim (jika ada) disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti oleh tanggal, bulan, tahun, topik isi bahan (dicetak miring), nama yang dikirimi disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).

Contoh: 1
Davis, A. (a.davis@uwts.edu.au). 10 Juni 1996. Learning to Use Web Authoring Tolls. Email kepada Alison Hunter (huntera@usq.edu.au).
Contoh: 2
Mulya, Hamdani. (mulyahamdani@yahoo.com). 15 Oktober 2009. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Email kepada Redaktur Majalah Santunan Jadid (redaksisantunan@gmail.com).

2.12 Contoh Format Umum Karya Ilmiah
Dalam tulisan ini disajikan contoh format umum skripsi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Format karya ilmiah lazim juga disebut sebagai kerangka karya ilmiah.

KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Sumber Data
1.5 Hipotesis
1.6 Manfaat Penelitian
1.7 Pentingnya Penelitian
1.8 Metode Penelitian
1.9 Teknik Penelitian

BAB II LANDASAN TEORITIS
2.1 Pengertian Cerpen
2.2 Pengertian Metafora Menurut Para Ahli
2.3 Metafora dalam Cerpen
2.4 Tipe Pelimpahan Metafora dalam Cerpen
2.5 Metafora sebagai Simbolis dalam Cerpen
2.6 Metafora sebagai Sarana Penceritaan dalam cerpen
2.7 Metafora sebagai Gaya dan Nada
2.8 Metafora sebagai Penggambaran Watak Tokoh

BAB III ANALISIS METAFORA DALAM CERPEN KARYA TAUFIQ ISMAIL
3.1 Pengolahan dan Analisis Data

BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan
4.2 Saran-Saran

DAFTAR PUSTAKA
TABEL
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIOGRAFI PENULIS


Latihan dan Tugas
1. Sebutkanlah ciri-ciri karya ilmiah yang anda ketahui !
2. Sebutkan prinsip-prinsip penulisan karya ilmiah yang baik !
3. Bahasa Indonesia yang bagaimakah digunakan dalam penulisan karya ilmiah !
4. Apa syarat-syarat tema karya ilmiah yang baik ?
5. Sebutkan aturan-aturan penulisan daftar pustaka dalam karya ilmiah beserta contohnya !










BAB III
BUNGA RAMPAI BAHASA INDONESIA


AMBIGUITAS, KALIMAT EFEKTIF, DAN PESONA KEBAHASAAN

Oleh Hamdani, S.Pd.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar di dunia pendidikan. Demikian antara lain fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Namun, dalam realitas keseharian dalam berbudaya berbahasa, pengguna bahasa sering kali mengabaikan aturan-aturan kebahasaan seperti ejaan. Bahkan problema seperti itu dilakukan oleh kaum intelektual. Dalam pemakaian ejaan sering kita menemukan pemakaian huruf kapital yang kurang tepat. Misalnya penulisan nama dosen dan gelar pada absensi, dalam makalah atau lembaran pengesahan skripsi yang disusun oleh mahasiswa sering ditulis dengan huruf kapital semua. Contoh: DRS. MUKHLIS A. HAMID, M.S. Padahal penggunaan huruf kapital semacam itu suatu yang bertentangan dengan Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), pada tahun 1972.
Sebenarnya cara penulisan ejaan yang benar nama dan gelar pada contoh di atas adalah Drs. Mukhlis A. Hamid, M.S. Untuk lebih jelas silakan anda baca lagi EYD terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) sebagai tugas pribadi anda. Menarik bukan ? Bukankah anda seorang penulis buku, peneliti, dosen, guru, insan pers, mahasiswa, atau minimal anda masyarakat pemakai bahasa Indonesia. Karena santunnya suatu bahasa mencerminkan luhurnya budi pengguna bahasa suatu bangsa. Indah sekali bukan?

EYD di dalamnya mengulas bagaimana penggunaan aturan kebahasan secara cermat dan rapi mengenai: huruf kapital, huruf miring, tanda baca, dan peristilahan. Masih banyak kesalahan lain yang sering kita temukan dalam penulisan huruf kapital seperti pada penulisan nama jenis makanan, misalnya pada penulisan kata pisang ambon dan asam jawa. Pemakai bahasa sering terkecoh dengan aturan penulisan huruf kapital pada nama suku dan bangsa. Sering menyamakan dengan penulisan suku Ambon dan suku Jawa.
Hal itu mengingatkan kita bahwa pada penulisan kata pisang ambon dan asam jawa tidak menggunakan huruf kapital, karena bukan nama suku dan bangsa. Melainkan nama jenis makanan atau buah-buahan. Demikian juga jika kita hendak menulis nama geografis seperti dalam kalimat berikut:
Kapal besar itu akan berlayar ke samudera luas.
Samudera luas ditulis dengan huruf kecil, karena samudera luas bukan nama geografis. Namun, jika kalimat tersebut diubah menjadi:
Kapal besar itu akan berlayar ke Samudera Hindia.
Maka Samudera Hindia, pada setiap awal kata ditulis dengan huruf kapital, karena merupakan nama geografis.

Dari segi lain kesalahan berbahasa Indonesia juga kita dapatkan dalam pemakaian bahasa yang ambiguitas. Artinya bahasa yang bermakna ganda sehingga membingungkan pembaca karena multi tafsir. Ambigu tidak sama dengan konotasi atau makna sampingan. Lazim disebut dengan makna kias, karena makna kias lebih menyarankan pada pengertian bahasa figuratif atau gaya bahasa. Walaupun demikian, ambiguitas dan konotasi keduanya dilarang keras pemakaiannya dalam bahasa karya ilmiah. Ambiguitas dan konotasi hanya dibolehkan pemakaiannya dalam karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi. Kadang-kadang juga digunakan dalam bahasa jurnalis dan feature untuk menarik perhatian dan membuat pembaca penasaran.

Contoh kalimat ambigu antara lain: Kucing makan tikus mati.
Dalam kalimat tersebut siapa yang mati ? Tikus atau kucing?
Kita dapat memperbaiki kalimat tersebut dengan memberikan tanda koma (,) pada posisi berikut: a) Kucing, makan tikus mati. Kalimat tersebut berarti seekor kucing yang makan tikus sudah mati, b) Kucing makan, tikus mati. Berarti kucing dan tikus tidak saling berinteraksi, tetapi bersifat individualistis,
c) Kucing makan tikus, mati. Berarti seekor kucing setelah makan tikus, kucing ini mati. Disebabkan oleh asumsi bahwa tikus mati, yang dimakan oleh kucing sebelum mati kucing, telah memakan racun berbahaya.

Masih banyak contoh lain kalimat ambigu yang menjadi tugas pribadi anda di rumah untuk memperbaikinya. Sebagai pekerjaan rumah (pr) silakan anda baca buku Komposisi: Mengolah Gagasan Menjadi Karangan karya Walija (1996) atau baca Menulis Ilmiah karya Azwardi, S.Pd., M.Hum (2008).
Ambigu adalah salah satu ciri dari kalimat yang tidak efektif.
Kalimat efektif merupakan suatu kalimat yang mampu menyampaikan pesan secara akurat dan mampu juga diterima dengan akurat oleh pembaca atau pendengar. Apabila yang di sampaikan X oleh pembicara dan penulis maka yang diterima juga X oleh pendengar dan pembaca. Tidak kurang dan tidak lebih (Walija, 1996:33). Sebagai seorang orator ulung dan penulis handal kita harus mampu memahami dan menggunakan kalimat efektif secara cermat.
 Ciri-ciri kalimat efektif selanjutnya adalah sebagai berikut:
a) memilih kata (diksi, bahasa Inggris: diction) dan istilah yang tepat,
b) menggunakan ejaan secara cermat,
c) penghematan kata dan tidak menggunakan kata secara mubazir.
Contoh kalimat mubazir: Banyak sekali surat-surat masuk ke kantor redaksi. Kalimat tersebut lebih efektif jika ditulis Banyak surat masuk ke kantor redaksi,
d) menggunakan kata yang segar dan bervariasi. Jangan menggunakan kata-kata yang kusam dan bertele-tele serta membosankan,
e) menyelaraskan dengan kalimat-kalimat lain dan koheren.

Dalam bahasa keseharian kita juga mendengar pemakaian bahasa yang tidak efektif pada acara seminar, orasi ilmiah, dan ceramah. Misalnya: (1) Kepada Bapak tempat dan waktu kami persilakan dengan segala hormat. Dalam kalimat ini yang dipersilakan tempat seperti meja dan kursi, (2) Untuk mempersingkat waktu acara kami lanjutkan. Yang seharusnya, Untuk menghemat waktu acara kami lanjutkan, dan (3) Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-63. Penulisan yang benar adalah Hari Ulang Tahun ke-63 Republik Indonesia. Karena ke-63 dalam kalimat tersebut menunjukan jumlah tahun atau hari, bukan jumlah negara atau seri. Boleh kita menggunakan jumlah di akhir, jika kalimat itu menunjukkan seri. Contoh: Pesawat Seulawah Agam RI-01 dan Pesawat Seulawah Dara RI-02.

Demikian banyak problema kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Selain itu, kesalahan berbahasa Indonesia juga terjadi pada penulisan surat-surat resmi. Kesalahan bahasa ditambah lagi oleh “Preman Bahasa” dengan menerbitkan kamus bahasa prokem alias bahasa gaul. Agar lebih kronis bahasa terus dirusak oleh pengguna Hand Phone (HP) dengan bahasa layanan SMS yang multi tafsir. Untuk selanjutnya kalangan artis menganggap bahasa Indonesia yang baik dan benar terlalu kaku digunakan saat berbicara di depan publik. Lahirlah bahasa Indonesia bernuansa ala artis. Memperbaiki bahasa Indonesia bukan hanya tugas ahli bahasa, tetapi tugas kita semua pengguna bahasa Indonesia. Pesona bahasa kali ini membuat pandangan kita kabur dan merasa prihatin, karena banyak bahasa yang telah di rusak oleh kaum kita sendiri. Selamat berkarya semoga harapan berubah menjadi kenyataan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar