Minggu, 07 Agustus 2016

INTISARI ILMU PENDIDIKAN ISLAM

:  

  

Tugas jurusan PAI semester III B dalam rangka melengkapi perkuliahan mata pelajaran  IlmuPendidikan Islam yang di bina oleh Gurunda
KM.Muhyiddin Tahir, M .Th.I.



                                              


0leh:
NURUL FADILAH
NIM:12220040

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AS’ADIYAH SENGKANG KAB.WAJO


1.      Hakikat Pendidikan islam
Pendidikan dalam Islam di kenal dengan beberapa istilah,yaitu at-tarbiyah, at-ta’lim ,dan at-ta’dib. Setiap istilah tersebut memiliki makna tersendiri yang berbeda satu sama lain.Perbedaan tersebut disebabkan adanya perbedaan teks dan konteks.
At-tarbiyah diturunkan dari akar kata ar-rabbyang oleh sebagian ahli diartikan sebagai tuan, pemilik ,memperbaiki,merawat dan memperindah. At-tarbiyah(menurut Muhammad Jalaluddin Al-Qosimi [1979] dalam Muhaimiin dan Mudjib [1993:130]) berarti proses penyampaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap.
            Tarbiyah,juga dmaknai sebagai proses penanaman etika yang dimulai pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat,sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi jiwa yang mantap, yang dapat membuahkan sifat-sifat bijaksana, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi tanah airnya.
            Term ta’lim merupakan bagian kecil dari tarbiyah al-aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berfikir, yang sifatnya mengacu pada domain kognitif (usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri,faktual).Sebaliknya at-tarbiyah tidak hanya mencakup domain kognitif saja akan tetapi juga domain afektif(praktek ,perasaan) dan psikomotorik (aktifitas fisik yang berkaitan dengan proses mental dan psikologi) (Muhaimin dan Mudjib, 1993 :133).
             Sedangkan istilah ta’dib menurut Daud (1987) berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan yang sedemikian rupa untuk membimbing manusia kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya (Muhaimin, 1993:133).[1]
Hakikat pendidikan islam ialah usaha orang dewasa musllim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar ) anak didik melalui ajaran islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[2]
Pendidikan, secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah juga sering diartikan dengan “menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran islam makan harus berproses melalui sistem keendidikan islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.
Esensi dari potensi dinamis dalam setiap diri manusia itu terletak pada keimanan atau keyakinan, ilmu pengetahuan, akhlak (moralitas) dan pengalamannya. Dan keempat potensi esensial ini menjadi tujuan fungsional pendidikan islam. Oleh karenanya dalam strategi pendidikan islam, keempat potensi dinamis yang esensial tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran proses kependidikan islam sampai kepada tercapainya tujuan akhir pendidikan yaitu manusia dewasa yang mukmin, muslim dan muhsin.
Secara filosofis, proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term al-Tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu:
1.       memelihara dan menjaga fitrah anak menjelang dewasa (baligh).
2.      mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3.       mengembangkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4.      melaksanakan pendidikan secara bertahap
Konsep
2.       Fillsafat Pendidikan Islam
Secara harfiah filsafat berarti “cinta kepada ilmu”berasal dari kata Philo(Cinta) dan Shofos(ilmu/hikmah)[3].filsafat pendidikan Islam yang membahas permasalahan pendidikan Islam tidak berarti membatasi diri pada permasalahan yang ada didalam ruang lingkup kehidupan beragama umat Islam semata-mata , melainkan juga menjangkau permasalahan luas yang berkaitan dengan pendidikan bagi umat islam.Dengan demikian seluruh permasalahan yang menyangkut kehidupan umat manusia yang berpengaruh terhadap kehidupan terhadap kehidupan umat manusia juga termasuk pemikiran filsafat pendidikan islam.
Akan tetapi ,semua permasalahan yang bukan agamis yang menyangkut masalah sosial dan ilmu pengetahuan serta teknologi itu dianalisis secara mendalam , sehngga diperoleh hakikatnya dari segi pandangan islam karena filsafat bertugas pokok mencari hakikat dari segala sesuatu .dari hakikat itulah timbul pemikiran teoritis yang padagilirannya menimbulkan pemikiran tentang strategi dan taktik atau operasionalisasi kependidikan islam.Dari sinilah timbul ide2 kependidikan Islam yang dituangkan dalam Sistem Pendidikan Islam.
Sebagai contoh, dapat kiranya dilihat dari hasil pemikiran flsuf zaman keemasan Perkembangan islam di Timu Tengah ,AfrkaUtara dan Spanyol dari abad ke -7 sampai abad ke-12 Masehi, pada masa ini lahir filsuf2 islam semisal Al-Kindi,Al-Farabi,Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dll.Meskipun mereka memiliki spesialisasi ilmu pengetahuan tidak semata-mata  agamis seperti ilmu kedokteran, sosiologi dsbg.Akan tetapi jiwa corak keislamannya tetap menonjol karena aagama menjadi sumber insprasi serta motivasi mereka untuk berfikir , menyelidiki,menilai, menyimpulkan , serta menemukan suatu hakikat, darii alam raya yang bermanfaat bagi umat manuasi , yaitu ilmu pengetahuan yang luas dan dalam , meskipun ilmu yang telah mereka ungkap belum seberapa dibanding ilmu Allah itu sendiri
Dimasa itu Islam telah mendorong para pemkirnya untuk menyelidiki,menilai, menyimpulkan, mengembangkan ilmu pengetahuan yang berasal darii sumbernya yang asli, ajaran agama , maupun dari kebudayaan lain yang diolah sejalan dengan nilai2 islamisehinnga hasil keilmuan itu bisa mempengaruhi dunia barat dan ikut tertarik dengan dunia islam,.
Ima dan ilmu pengetahuan merupakan dua asas hiduup manusia muslim yang saling mempngaruhi dallam pribadinya sehingga ia terangkat dari keterbelakangan dan kebodohan menjadi pribadi yang bermartabat itnggi di mata tuhan dan sesama manusia.ajarn yang penuh motivasi dari rasulullah benar2 menjadi pemacu senmangat untuk pemikir pada masa itu
a)      Ambillah hikmah dari manaapun datangnya
b)      Hikmah itu merupakan barang yang hilang bagi orang mukmin barang siapa yang menemuinya ambillah segera
c)      Agama itu adalah akal ,barang siapa tidak berakal, maka ia tidak bisa beragama
d)     Carilah ilmu sampai kenegeri cina.[4]
  
3.      Guru Sebagai Pendidik
Dalam UU SISDIKNAS Pasal 27 ayat 3 dikemukakan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar.[5] Al-Qur’an tidak mengemukakan secara eksplisit ayat-ayat tentang pendidik inklusif guru, Namun Al-Qur’an  menegaskan kepada setiap pribadi muslim agar mewaspadai diri dan keluarganya agar tidak tersentuh api neraka  (Q.S.Al-Tahrim (66):6).Jika pada ayat tersebut ditekankan perlunya kewaspadaan orang beriman terahadap dir sendiri dan keluarganya, maka dapat dipahami setiap oranf beriman adalah pendidik.Sehubungan dengan ini maka tugas pendidik identik dengan tugas para rasul yakni takziyah dan taklim. Takziyah berarti mensucikan ,fisik, fikir, jiwa dan qalb peserta didik, berusaha mengembangakan dan mendekatkan kepada Allah SWT ,seraya menjaga fitrahnya dari segala kemungkinan yang dapat merusak .sedangkan ta’lim menyampaikan ilmu pengetahuan.[6]
           
Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Pendidik merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan, dipundakny[7]a terletak tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang dicitakan. Secara umum, pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Istilah yang lazim dipergunakan untuk pendidik adalah guru, Kedua istilah tersebut bersesuaian artinya. Bedanya ialah istilah Guru seringkali dipakai dilingkungan formal, sedangkan pendidik di pakai dilingkungan formal dan informal.
Ø  Pendidik secara pedagogis di bagi menjadi 2:
a)      Secara adi kodrati orang tua peserta didik
b)      Pendidik yang diserahi tugas untuk mendidik dalam artian orang tua kedua setelah orang tua peserta didik.Guru termasuk dalam kategori ini, karena berperan sebagai pendidik maka didalam tugasnya ia seorang yang harus profesional.[8]

Ø  Agar proses pendidikan berjalan baik dan lancar maka seorang pendidik memiliki  ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Paling utama adalah memiliki kewibawaan, yaitu pengaruh positif normatif yang diberikan kepada orang lain atau anak didik dengan tujuan agar yang bersangkutan dapat mengembangkan dirinya seoptimal mungkin.
2.      Mengenal secara pribadi anak/peserta didik secara umum dan khusus, terutama pendidik anak luar biasa.
3.      Membantu peserta didik dalam memahami pelajaran dan membangun kepribadian yang bertanggung jawab, memiliki pendirian, dan tidak bergantung dengan orang lain.[9]
Selain mendidik pendidik/guru mempunyai 4 empat tugas, yaitu ;
1.   Mengajarkan ilmu pengetahuan agama isalm.
2.   Menanamkan Keilmuan dalam jiwa anak.
3.   Mendidik anak agar taat menjalankan agama.
4.   mendidik anak agar berbudi pekerti baik.
Toto Suharto Mengutip dari pendapat Muraini dan Abdul Majid dalam bukunya mengemukakan tiga fungsi pendidik. Yaitu ;
1.   Fungsi Instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran .
2.   Fungsi Edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan.
3.   Fungsi Managerial yang bertugas memimpin dan mengelola pendidikan.
Untuk Menjalankan Itu semua seorang guru atau pendidik harus memenuhi syarat-syarat. Dalam hal ini kami contohkan dalam peraturan persyaratan yang tertuang dalam UU pendidikan dan pengajaran no.04 tahun 1950 bab X pasal 5 yang berbunyi :
“ Syarat utama menjadi seorang guru, selain ijazah dan syarat-syarat lain yang mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pengajaran (seperti yang dimaksud dalam pasal 3,4 dan 5 UU ini).Selain itu, Indonesia pada tahun 2005 telah memiliki Undang-Undang Guru dan Dosen, yang merupakan kebijakan untuk intervensi langsung meningkatkan kualitas kompetensi guru lewat kebijakan keharusan guru memiliki kualifikasi Strata 1 atau D4, dan memiliki sertifikat profesi.
                                   Syarat khusus pendidik, yaitu;
1.      Mengetahui tujuan pendidikan yang dianut oleh suatu negaranya
2.      Mengenal peserta didik
3.      Memiliki prinsip dalam menggunakan dan menyesuaikan alat pendidikan dengan situasi tertentu.
4.      Mempunyai sikap bersedia membantu  peserta didik dalam artian lebih sabar
5.      Mengidentifikasikan diri dengan peserta didik dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan anak guna mencapai tujuan pendidikan
6.      Memasyarakatkan diri, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat diterapkan dimasyarakat sehingga langsung atau tidak langsung peserta didik akan langsung merasakan manfaatnya.[10]
Adapun rumusan tujuan  umum yang harus dicapai oleh setiap guru PAI : “Meningkatkan kualitas Keimana dan Ketaqwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas kepribadian muslim (akhlaqul karimah) peserta didik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.[11]

4.      Batas2 Pendidikan
 Menurut pendapat Dr.M.J Levengld yang disebut pendidikan ialah  pemberian bimbingan dan rohani bagi yang masih memerlukan jadi kalau sudah tidak membutuhkan pertolongan dan bimbingan tidak lagi dididik.menurutnya kapan dimulainya seorang anak didik yaitu ketika anak sudah mengerti  arti kewibawaaan. Paksaan yang diberikan kepada anak kecil disebut “pendidikan” bukan paksaan.dimulai saat umur 3 tahun dan berakhir saat dewasa dan tidak memerlukan pertolongan lagi , dewasa dalam arti jasmani dan rohaninya sudah terpenuhi.
Ada pula pendikan sebelum lahir, menurut beberapa ahli di bagi menjadi 2:
1.      Pendidikan fisik yaitu pemeliharaan kesehatan ibu yang sedang mengandung supaya anak yang dikandungnya menjadi sehat.
2.      Pendidikan psikis, ibu yang mengandung tidak boleh memikirkan hal2 yang ruwet, alias harus berfikir poditif dalam berbagai hal
Pendidikan yang lebih awal ialah saat sebelum melaksanakan perkawinan dengan memilih pasangan dengan bibit, bebet, dan bobot yang baik dengan harapan mendapatkan anak yang baik dari keturnannya itu.
Dalam islam ada yang disebut: “ tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”
Mendidik seawal mungkin diharapkan karena pendidikan bukan hanya sekedar pembelajaran tetapi juga usaha penanaman nilai2 islam kedalam jiwa anak didik dengan tujuan agar terwujud insan yang muslim, selalu tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.
Menurut Ki Hajar Dewantara batas pendidikan adalah 24 tahun
a.       Dimana batas pendidikan?sebutkan dalil tentang batas pendidikan ?
Batas pendidikan menurut islam adalah minal mahdi ilal lahdi
b.      Apa tujuan pendidikan?
Dalam konteks islam harus mengarah pada hakikat penddikan yang meliputi beberapa aspeknya yaitu tujuan dan tuga s hidup manusia, memperhatikan sifat2 dasar manusia, tuntutan masyarakta, dan simensi2 ideal islam
c.       Menurut psikologi sewajarnya umur masuk pendidikan formal berapa?
7 tahun
d.      Mengapa kihajar dewantara mengatakan kalau batas pendidikan itu pada umur 24 tahun?
Karena pada masa itu saat umur tersebut tercapai tingkat sekolah formal telah selesai
e.       Penting mana pengalamaan atau penddikan?
Dua2 x memilik keterkaitan dan saling melengkapi
5.Wibawa dalam pendidikan
Konsep kewibawaan di adopsi dari bahasa belanda yaitu” Gezaq” yang berasal dari kata “segen” yang berarti berkata. Siapa yang perkataannya yang mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan terhadap orang itu. Wibawa adalah rasa hormat, segan
Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri si pendidik dan membawa anak didik ke tingkat kedewasaanya sehingga mempunyai tujuan mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma maka menjadi syarat si pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri.
sikap anak terhadap wibawa pendidikan dalam hal ini langevel menjelaskan dengan 2  buah kata:
a.       sikap untuk menurut atau mengikut ( folagen)
mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan,takut. jadi bukan tunduk atau mengikuti yang sebenar-nya.
b.      sikap tunduk atau patuh,
yaitu dengan sadar mengkuti kewibawaan antaranya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu. Dalam hal terakhir inilah fungsi wibawa  pendidikan. yaitu membawa  si anak ke arah pertumbuhanya yang kemudian dengan sendirianya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankanya (Athiyah alabrasy, 2001, 55).
6.Lingkungan pendidikan
Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua , guru, pemimpin, program pembelajaran, latihan dan masyarakat/organisasi.Menurut KiHajar Dewantara Pendidikan berpusat pada 3 hal   biasa disebut Tri Pusat Pendidikan[12]:
Lingkungan ada yang fisik dan non fisik, hidup dan mati, sengaja (sekolah) dan tidak sengaja (masyarakat) diciptakan.
Setiap bagian dari tri pusat pendidikan saling terkait dalam membentuk jiwa dan mental masyarakat yang baik, keluarga sebagai lingkungan kecil, memberi peran besar sebagai dasar pembentukan jiwa dalam mebentuk karakter individu , secara garis besar orang tua bukan hanya dua bapak-ibu, tetapi juga guru,pembimbing, yang memberikan perhatian dalam perkembangan pendidikan .orang tua adalah guru terbaik, dan guru adalah orang tua terbaik saat tidak ada orang tua, dalam pernyataan Iskandar Zulkarnain: “saya lebih menghormati guru ketimbang orang tua ,karena ia membawa saya dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi dengan ilmu yang dimilikinya, sedang orang tua membawa dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah yaitu dari langit ke bumi ”. Ini hanya bermaksud untuk mengangkat derajat guru pada saat itu,
Kepribadian muslim yang utuh tidak dapat selalu tercapai karena pengaruh berikut:
1.      faktor keturunan mencakup pembawaan , bakat dan semua potensi yang di bawa manusia sejak lahir.
2.      Faktor lingkungan meliput iklim dan geografis ,tempat tinggal , adat istiaddat , pengetahuan, pendidikan dan alam.
Berikut  ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar pendapat bahwa faktor lingkungan dan keturunan  sebagai pokok yang mempengaruhi pertumbuhan manusia:
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun , dan dia memberi pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (An-Nahl:78)
7.Metode dalam pendidikan
Dalam proses pendidikan islam, metode yang tepat guna apabila mengandung nilai2 intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai2 ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam.
Sebagai suatu komponen oprasional ilmu pengetahuan islam, metode yang baik yaitu jika memilik watak dan relevansi yang senada dengan tujuan pendidikan islam itu.
Prinsip2 Metodologi yang di jadikan landasan psikologi dalam memperlancar proses kependidikan islam:
1.      memberikan suasana gembira, sebagaimana Nabi Muhammad bersabda  kepada Mu’adz Ibn Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ary:
ا ولا تعسروا بشروا ولا تنفروايسرو
 “permudahkanlah mereka jangan mempersulit, gembirakanlah mereka dan jangan berbuat sesuatu yang membuat mereka menjauhi kamu”
Dan berbagai firman Allah SWT yang menyuruh para pendidik untuk memberikan kegembiraan kpd orang2 beriman ,sabar, berbuat kebaikan dan sebagainya dalam Q.S.2:25
2.      prinsip komunikasi terbuka, guru memdorong manusia didik membuka diri terhadap segala hal sehingga mereka dapat menyerap pelajaran menjadi bahan apresasi dalam pemikirannya hal ini sejalan dengan isi kandungan Q.S.Al-a’raf:179
“Dan sesungguhnya kami jadikan neraka jahannnam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat2 Allah...”
3.      pemberian pengetahuan baru, dalam ajaran islam terdapat prinsip2 pembaharuan dalam belajar baik tentang fenomena2 alamiah maupun fenomena yang ada pada diri sendiri ,dalam Al-Qur’an banya ayat yang menjelaskan hal2 atau unsur2 baru dalam alam sekitar, seperti dalam Q.S.2:164
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi ,silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia.....”
4.      memberikan model perilaku  yang baik.,anak didik mencontoh apa yang diamati dan meniru perilaku dalam proses belajar mengajar .Nabi SAW.sendiri pernah mendidik para sahabat dengan prinsip meniru model shalat yang beliau praktekkan
5.      paktek secara aktif, ranah afektif,mengamalkan segala apa yang sudah di pelajari, sebagaimana yang ada pa Q.S.Ash-Shaffat :2-3
“hai orang2 beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat...”[13]
8.Peserta didik dalam pendidikan islam
anak didik adalah merupakan salah satu factor pendidikan yang paling penting  karena tanpa adanya factor tersebut, maka pendidikan tidak akan berlangsung. Oleh karena itu factor anak didik tidak dapat digantikan oleh factor yang lain.
Cirri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah
a.    Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insane yang unik
b.   Individu yang sedang berkembang
c.    Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
d.   Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri
Dalam paradigma pendidikan islam, peserta didik merupakan sesuatu yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar (fitrah) yang perlu dikembangkan. Di sini peserta didik adalah makhluk Allah yang terdiri dari aspek jasmani dan ruhani yang belum mencapai kematangan, baik fisik, mental, intelektual, maupun psikologisnya. Oleh karena itu, ia senantiasa memerlukan bimbingan arahan pendidik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal dan membimbingnya menuju kedewasaan.
Peserta didik sebagai subjek pendidikan, menurut Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Jika menginginkan keberhasilan meraih ilmu harus memenuhi enam syarat  yaitu :
1) Cerdas                                       4) mempunyai Bekal
2) Bersungguh-sungguh                5) Mengikuti Petunjuk Guru (Ustadz)
3) Sabar                                        6) Lama Waktunya
            Anak didik adalah mahluk yang sedang berada dalam proses perkembangan/pertumbuhan menurut fitrah masing2 , sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah optimal kemampuan fitrahnya.ia juga diberi peran sebagai subjek pendidikan melalui berbagai kesempatan yang tepat disamping sebagai objek penddikan. Proses kependidikan untuk mengembangkan ciri2 individual mereka berdasar kemampuan dari komponen2 fitrahnya yang didorong ke arah perkembangan positif dan kontruktif itu diberikan kepada mereka berdasarkan hukum2 mekanisme perkembangan dan pertumbuhan yang bersifat kesatuan organis, konvergensis, dan temporer.
Untuk itu peserta didik harus dipandang secara filosofis yaitu menerima kehadiran keakuannya, sebagaimana eksistensinya.Inilah prinsip daar pendidikan untuk peserta didik sehingga proses pendidikan dapat berjalan lancar dan wajar , dan peserta didik harus dipandang sebagai subyek.walaupun seperti itu , penddik juga tetap memegang peranan tidak membenarkan tindakan peserta didik, akan tetapi membantu , menolong melayani sesuai eksistensinya agar menuju perkembangan yang dewasa sesuai dengan norma-norma yg berlaku.
Perlu bagi seorang pendidik untuk mengetahui pembagian jenis peserta didik untuk mempermudah dalam melaksanakan proses pendidikan:
1.      peserta didik menurut tahap perkembangan dan umur[14]
a)      0-7 tahun = masa usia dini/pra-sekolah
Masa pra sekolah adalah hari-hari dan malam yang mengagumkan dimana secara tiba2 anak usia satu tahun tampak menjadi saeperti anak lima tahun[15]
Peserta didik memiliki sifat yang berbeda2, dan sudah memikirkan hal2 yang dasar mengenai lingkungannya, cenderung penurut dan membutuhkan banyak perhatian.
b)      7-14 tahun=masa sekolah
Memberikan perhatian lebih dalam hal memberi pengertian yang wajar dan lebih banyak memberi motivasi karena bersamaan memasuki evaluasi akhir belajar, sekolah dasar.
c)      14-21 tahun=pubertas
Pada masa ini pendidik harus tanggap dalam hal melaksanakan pendidikan, khususnya tentang ;
Ø  Penemuan sifat2 khusus yang ada dalam dirinya
Ø  Sifat pertentangan , sebab belum ada keseimbangan emosi
2.      Menurut status dan tingkat kemampuan
a)      Penggolongan berdasarkan IQ
Ø  Super normal >  110-140 ke atas
Ø  Normal > 70-110
Ø  Sub Normal > 20-70
3.      Intelegensi
4.      Kelainan
a)      Sosial
Ø  Nakal
Ø  Penyendiri
b)      Jasmaniah
Ø  Timpang
Ø  Kelainan Pengelihatan
Ø  Kelainan Pendengaran
Ø  Kelainan Bicara
Ø  Kerdil
c)      Mental
Ø  Kecerdasan rendah
Ø  Kecerdasan tinggi[16]
9.Kurikulum dalam Pendidikan Islam
Istilah kurikulum pertama kali digunakan di dunia olahraga  pada zaman yunani kuno  yaitu curriculum yang berarti jarak (jarak yang harus di tempuh oleh  atlit  ).akar kata curriculum yaitu currir artinya pelarri dan curare yang berarti tempat berpacu (oleh peserta lomba lari).Pada waktu itu, orang mengistilahkannya  dengan tempat berlari mulai Start sampai Finish   ,dari makna ini dalam konteks kegiatan pendidikan ,kata kurikulum diartikan dengan “sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh anak didik untuk mendapatkan ijazah”.Atas rumusan dasar ini kata kurikulum diartikan sebagai rencana pelajaran (a plan for learning)[17]
 Suatu lembaga yang memberikan pengajaran dan ilmu pengetahuan yang berasaskan tujuan pendidikan slam, baik pelajran yang umum maupun pelajaran islam namun tetap sejalan dengan tujan pendidikan islam,..yaitu menciptakan manusia yang berakhlaq mulia dan beriman dan bertaqwa, pengetaahuan islam bukan hanya pengetahuan agama islam akan tetapi juga pengetahuan umum.
A.Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam
a)      Karakteristik dasar
Yang mendasari kurikulum Pendidikan Islam sebagai mana sumber hukum islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist,  dan Ijtihad ulama.
b)      Karakteristik materi
Mengarah kepada materi-materi yang yang berhaluan islami, baik ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah menurut al-Ghazali , Walaupun ilmu bhs.inggris mrpakan ilmu duniawi jika ia menuju kepada dakwah dan tujuan kemaslahatan dunia dan akhirat maka tetap termasuk dalam memiliki karakteristik pendidikan islam.
c)      Karakteristik tujuan
Kurikulum pendidikan islam bersumber pada tujuan pendidikan islam. Prof. HM. M.Ed. menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan islam merealisasikan manusia muslim yang beriman, bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada sang Khalik-Nya dengan sikap dan kepribadian bulat yang menyerahkan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupannya dalam rangka mencari keridahan-Nya sehingag dapat mencapai kebahagian lahir dan batin , dunia dan akhirat, inilah prbedaan kurikulum pend.islam dengan umum karena yang ingin dicapai bukan hanya dalam konsep materi.
Tujuan yang akan dicapai dalam kurikulum pendidikan islam ialah membentuk anak didik menjadi berakhlak mulia, dalam hubungannya dengan hakekat penciptaan manusia.Materi pokok kurikulum pendidikan islam ialah bahan-bahan, aktivitas dan pengalaman yang mengandung unsur ketauhidan.
B.Prinsip Kurikulum
Ø  Sejalan dengan idealitas islami yang mengandung materi (bahan) ilmu pengtahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujan islami
Ø  Untuk berfungsi sebagia alat yang efektif mencapai tujuan  tsb, kurikulum harus mengandung nilai2 islami yang intrinsik dan extrinsik untuk mampu merealisasikan tujuan pendidikan islam
Ø  Kurikulum yang bercirikan islami itu dproses melalui metode yang sesuai dengan nilai2 yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam
Ø  Antara kurikulum, metode, tujuan pendidikan islam harus saling berkaitan dan saling menjiai dalam proses mencapai  produk yang dicita2kan menurut ajaran islam
      Sama dengan prinsip kurikulum umum hanya saja pada kurikulum pendidikan islam lebih ditekankan kepada menghasilkan manusia yang seutuhnya,yang mengintegrasikan fakultas zikir dan fakultas pikir
a).Kurikulum pendidikan silam sejalan dengan idelitas islam yang mengandung materi ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan yang islami.
b).Untuk berfungsi sebagai alat yang efektif mencapai tujuan tersebut.
c).Kurikulum yang bercirikan islam itu diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam.
d). Antar kurikulum, metode dan tujuan pendidikan islam harus saling berkaitan dan saling menjiwai dalam proses pencapaian produk yang dicita-citakan menurut ajaran islam.
C.Kategori Kurikulum
                     Ibnu Khaldun menetapkan kategori ilmu pengetahuan islam yang harus dijadikan kurikulum sekolah ada 3 macam:
Ø  :Ilmu lisan (ilmu lughah,nahwu,sharaf,balaghah,ma’ani,dll.)
Ø  Ilmu naqly(qira’ah al-qur’an, ilmu tafsir, sanad-sanad hadits dan pentashinnya
Ø  .Ilmu aqly(logika, ilmu kalam,ilmu alam, ilmu tekhnik, ilmu bintang dll)
 Al-Ghazaly, menghendaki agar ilmu2 pengetahuan berikut dijadikan materi kurikulum pada lembaga pendidikan Islam ,yaitu:
a.       Ilmu Fardhu ‘Ain (wajib dipelajari) , yakni ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an, Fiqhi, Hadist, dan Tafsir. (PAI)
b.      Ilmu Fardhu Kifayah (untuk menunjang kehidupan di dunia), yakni metafisika,ilmu kedokteran. Ilmu teknik, ilmu pertanian dan ilmu industri.
Ibnu Sina mengklasifikasikaaan ilmu pengetahuan untuk diajarkan atau dipelajar orang islam ke dalam 2:
Ø  Ilmu nadhary atau ilmu teoritis,(ilmu riyadhy,ilmu ilahy, dll)
Ilmu-ilmu amaly( praktis/praktek): ilmu yang menganalisis tentang prilaku manusia dilihat dari aspek individual maka timbillah ilmu akhlak, jika menganalisis tentang prilaku manusia dilihat dari aspek sosial, maka timbul ilmu siasat (ilmu politik).
10. Evaluasi dalam  Pendidikan Islam
Sasaran evaluasi pendidikan islam secara garis besar ada 4:
1.      sikap dan pengalaman pribadinya, hubungannya dengan Tuhan;  
2.      sikap dan pengalaman dirinya, hubungannya dengan masyarakat
3.      sikap dan pengalaman kehidupnnya, hubungannya dengan alam sekitar
4.      sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah SWT dan selaku anggota masyarakat , selaku khalifah di bumi
Evaluasi adalah suatu penilaian yang lebih menitikberatkan pada perubahan kepribadian secara luas terhadap sasaran2 umum dari program kependidikan ,evaluasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai . evaluasi pada dasarnya adalah proses penentuan nilai sesuatu berdasarkan data/informasi yang diperlukan sebagai dasar dalam menentukan nilai sesuatu yang menjadi objek evaluasi, seperti program, prosedur, usul, cara, pendekatan , model kerja, hasil program dan lain2[18];
Ada 3 hal penting yang harus tercakup dalam proses evaluasi, yaitu:
a.       menetapkan suatu nilai atau judgment
b.      adanya suatu kriteria
c.       adanya deskripsi program sebagai objek penilaian
·         Penilaian
Penilaian berbasis pada tiga ranah yaitu kognitif (pengetahuan), afektif(sikap), dan psikomotorik(keterampilan). Ketiga ranah ini sebaiknya dinilai proporsional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan.untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kogniif, afektif, dan psikomoorik, dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari kompetisi dan materi. Selain penilaiian dalam kegiatan tes formal, guru juga harus terus mengikuti perumbuhan, perkembangan dan perubahan siswa dengan  memberikan juga penilaian pada:
1.      Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap
2.      Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, ditempat ibadah dan ketika mereka bermain
Dari berbagai pengamatan itu ada perrlu dicatat perilaku yang tidak wajar dan harus diikuti dengan langkah bimbingan. Penilaian terhadap pengamatan dapat digunakan observasi, wawancara, angket, quetsioner, dan skala sikap.
Dengan menggunakan sistem evaluasi yang tepat sasaran maka seorang guru akan dapat mengetahui dengan pasti tentang kemajuan, kelemahan, dan hambatan 2 manusia didik dalam pelaksanaan tugasnya, yang pada gilirannya akan di jadikan bahan perbaikan program atau secara langsung dilakukan remedial teaching (perbaikan melalui kursusu tambahan dan lain2 ). Atau apabila di pandang perlu manusia didik di beri bimbingan belajar secara intensif.
11.pesantren sebagai lembaga pendidikan
Pesantren pertama didirikan oleh sunan ampel di jawa pada abad ke 16 masehi,
Pada zaman modern ini ada 3 tipe pondok pesantren  :
1.      Pondok pesantren tradisional, masih mepertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke-15  dengan menggunakan bahasa arab,pola pengajarannya dengan sistem halaqah yang dilaksanakan di mesjid atau surau, hakikat dari sistem halaqah ini adalah cenderung kepada  terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu dan ilmu itu hanya terbatas pada yang diberikan kiayinya, kurikulum sepenuhnyapun tergantung pada kiayi pengasuh, santri pun ada yang menetap dan ada yang tidak menetap.
2.      Pondok pesantren modern
Merupakan pengembangan tipe pesantren yang orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional, tempat belajar di madrasah berupa kelas2 dan telah memakai kurikulum yang berlaku secara nasional, kedudukan kiayi sebagai koordinator pelaksana dan juga pengajar, perbedaan dengan sekolah dengan madrasah, terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa arab yang lebih menonjol sebagai kurikulum lokal
3.      Pondok pesantren komperehensif
Gabungan dari sistem pendidikan dan pengajaran dari tradisional dan modern, yaitu diterapkannya sistem belajar halaqah dan secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan,bahkan pendidikan keterampilan diaplikasikan, disini pondok pesantren telah berkiprah dalam pembangunan sosial kemasyarakatan.
Ketiga tipe ini menggambarkan bahwa pwsantren lembaga pendidikan sekolah, sebagaimana pengertian umunya,sebagai pendidikan luar sekolah , dari berbagai kegiatan kependidikan baik keterampilan tangan, bahasa, maupun pendalaman pend. Agama islam melalui metode sorogan dan sebagai lembaga pendidikan masyarakat yang terlihat dari keterlibatan para santri dalam kegiatan kemasyarakatan dan mengikuti perkembangan masyarakat ,dan juga yang secara langsung dikelola oleh masyarakat bahkan merupakan milik masyarakat karena tumbuh dari dan oleh masyarakat.
Pondok pesantren juga disebut sebagai agen perubahan, karena dengan pendidikan agama islam dapat merubah masyarakat berwujud pnignkatan pemahaman terhadapa agama, ilmu dan teknologi, juga dalam bentuk praktek dan pengalaman yang cenderung membekali masyarakat ke arah SDA yang dapat mengelola alam dengan baik dan mengatasi permasalahan dengan potensi sendiri.
Kekuatan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam terletak pada misinya yang bersikap agamis dan searah dengan kondisi masyarakat sebagai pemeluk agama, pesantren telah jauh melampaui lembaga pendidikan lainnya dan telah nyata melaksanakan cita2 pendidikan nasional tentang pembangunan manusia seluruhnya dan masyarakat seutunya (UU RI .No.2 thn  1989 tentang sisdiknas bab II pasal 2)
Dalam perkembangannya misi pendidikan pondok pesantren terus mengalami perubahan sesuai dengan arus kemajuan zaman yang ditandai dengan munculnya IPTEK .Sejalan dengan terjadinya perubahan sistem pendidikannya , dari sistem salaf menuju khalaf dan dari tradisional ke modern dan terus menyesuaikan diri dengan lingkungan penddikan dengan prinsip masih dalam prinsip kawasan agama.oleh karena itu kedudukan pesantren benar2 partner yang intensif dalam pengembangan pendidikan dengan terbukti banyak  dan meluasnya pendidikan pesantren di nusantara.[19]



[1] Drs.H.Rois Mahfud,M.Pd.AL-ISLAM,Pendidikan Agama Islam.(ERLANGGA, Palangka Raya:2011).h.143
[2] Prof.H.M.Arifin,M.Ed.,ILMU PENDIDIKAN ISLAM, tinjauan teoritis dan praktis(PT.Bumi Aksara, Jakarta:2009)h.22
[3] [3] Prof.H,Muzayyin Arifin ,M.Ed.Filsafat Pendidikan Islam,Edisi Revisi, (Bumi Aksara,Jakarta:2003).h.3
[4] Ibid.h.5
[5] DEPARTMEN AGAMA RI DIREKTORAT JENDERAL KELEMBAGAAN AGAMA ISLAM, METODOLOGI PEDIDIKAN AGAMA ISLAM, (Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam,Jakarta:2002).h.2
[6] Prof.Dr.H.Abd.Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional Ber-Etika cet-7, (GRHA GURU, Yogyakarta: 2012).h.43
[7] Ibid.,h.47
[8] Drs.Abu Ahmadi & Dra.Nur Uhbiyati, ILMU PENDIDIKAN, (Rineka Cipta,Jakarta:2001).h.47
[9] Ibid.,h.48
[10] Ibid.,h.49
[11] Drs.Hadirja Paraba, WAWASAN TUGAS TENAGA GURU DAN PEMBINA PPENDIDIKAN ISLAM,.(FRISKA AGUNG INSANI, Jakarta:1999),.h.28
[12] DR.dr.Wahjoetomo,PERGURUAN TINGGI PESANTREN,OENDIDIKAN ALTERNATIF MASA DEPAN,(GEMA INSANI PRESS,Jakarta:1997).h.21
[13]. Prof.H.M.Arifin,M.Ed. Op. Cit h.144
[14] Drs.Abu Ahmadi & Dra.Nur Uhbiyati.Op.cit.h.42
[15] Jerry Wyckoff Ph.D & Barbara C.Unell, alih bahasa :Dra.Rita Wiryadi, Editor:Dr.Lydon Saputra, DISIPLIN TANPA TERIAKAN ATAU PUKULAN,(Binarupa Aksara,Jakarta:1997).h.5
[16] Drs.H.Abu Ahmadi & Dra.Nur Uhbiyati, ILMU PENDIDIKAN,(Rineka Cipta,Jakarta:2001)
[17] Loc.cit. Drs.H.M.Arsyad Meru,Mag,PengembanganKurikulum,(STAI As’adiyah Sengkang,:2008)

[18] Op.cit. Prof.H.M.Arifin,M.Ed.h.162
[19] Prof.Dr.Muhammad Bahri Gazali,MA, PESANTREN BERWAWASAN LINGKUNGAN, (CV,PRASASTI, Jakarta:2002)h.36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar