Senin, 25 April 2016

STRATEGI INOVASI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia dengan akalnya telah dapat menunjukkan kelebihan anugrah Tuhan dengan kemampuannya menciptakan berbagai macam sarana yang dapat digunakan untuk menguasai, memanfaatkan dan mengembangkan lingkungannya untuk kemajuan dan kesejahteraan hidupnya.
Pada mulanya ada tiga hal yang menjadi dasar kebangkitan kemajuan kehidupan umat manusia yaitu diciptakannya bahasa tulis kira-kira lima atau enam ribu tahun yang lalu, disusul dengan kemampuan mengoperasikan hitungan sederhana kira-kira seribu tahun kemudian dan diciptakannya mesin cetak sekitar lima ratus tahun yang lalu.
Dengan bahasa tulis kita mampu merekam (mencatat) berbagai macam informasi secara permanen serta mampu mengirimkan pesan dengan menerobos keterbatasan ruang dan waktu. Dengan operasi hitung kita dapat mengolah data kuantitatif yang akurat. Dengan mesin cetak kita dapat menyalin dan memperbanyak bahan tulisan dengan cara cepat dan rapi serta menyebarluaskannya ke generasi berikutnya.
Perkembangan zaman berikutnya kemajuan teknologi semakin cepat seperti photografi, photocopy, cinemaphotografi, telegrafi, telephon, radio komunikasi, radar, dan berbagai macam digital computer elektronik. Teknologi ini berkembang ke berbagai bidang kehidupan seperti di took, di sekolah, perguruan tinggi, kantor bahkan ke rumah tangga.
Hasil kemajuan teknologi memang dapat didayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, tetapi jika salah menggunakannya dapat juga merugikan dan mencelakakan manusia. Kemajuan dan perubahan kehidupan social yang serba cepat ini merupakan tantangan atau masalah dalam bidang pendidikan.
      Untuk menjawab tantangan atau memecahkan masalah tersebut perlu adanya sesuatu yang baru dalam bidang pendidikan yang dinamakan inovasi pendidikan. Suatu inovasi bnar-benar dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah pendidikan, jika inovasi itu dapat diterima dan diterapkan oleh para pelaksana kegiatan pendiidkan (pendidik). Oleh karena itu para pendidik perlu memahami tentang inovasi pendidikan baik mengenai pengertian, penyebaran, proses keputusan penerimaan atau penolakan, serta peran wahana pembaharu.


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana proses terjadinya  Inovasi pendidikan?
2.      Bagaimana penerapan strategi inovasi pendidikan?






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Proses Inovasi Pendidikan
Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan. Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan  memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. Berapa lama waktu yang digunakan selama prose situ berlangsung akan berbeda antara orang atau organisasi satu dengan yang lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi.
B.     Beberapa Model Proses Inovasi Pendidikan
Dalam mempelajari proses inovasi para ahli mencoba mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan individu selama proses itu berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka hasilnya diketemukan pentahapan proses inovasi seperti berikut.
1.      Beberapa Model Proses Inovasi yang berorientasi pada individual, antara lain :
a.       Lavidge & Steiner (1961) :
·         Menyadari
·         Mengetahui
·         Menyukai
·         Memilih
·         Mempercayai
·         Membeli
b.      Colley (1961)
·         Belum menyadari
·         Menyadari
·         Memahami
·         Mempercayai
·         Mengambil tindakan
c.       Rogers (1962)
·         Menyadari
·         Menaruh perhatian
·         Menilai
·         Mencoba
·         Menerima (Adoption)
d.      Robertson (1971)
·         Persepsi tentang masalah
·         Menyadari
·         Memahami
·         Menyikapi
·         Mengesahkan
·         Mencoba
·         Menerima
·         Disonansi

2.      Beberapa model proses inovasi yang berorientasi pada organisasi, antara lain :
a.       Milo (1971)
·         Konseptualisasi
·         Tentative adopsi
·         Penerimaan sumber
·         Implementasi
·         Institusionalisasi
b.      Shepard (1967)
·         Penemuan ide
·         Adopsi
·         Implementasi
c.       Hage & Aiken (1970)
·         Evaluasi
·         Inisiasi
·         Implementasi
·         Routinisasi
d.      Wilson (1966)
·         Konsepsi perubahan
·         Pengusulan perubahan
·         Adopsi dan implementasi
Ada lima tahap prose keputusan inovasi yakni:
1. Tahap Pengetahuan        

Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi Proses tahap inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan, yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut.
Berkaitan dengan pengetahuan tentang inovasi, ada generalisasi prinsip-prinsip umum tentang orang-orang yang lebih awal mengetahui tentang inovasi:
a) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi pendidikannya dari yang akhir
b) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi status social ekonominya dari pada yang akhir
c) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap media massa dari pada yang akhir
d) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap komunikasi interpersonal dari pada yang akhir
e) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak kontak dengan agen pemabaharu daripada yang akhir
f) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih cosmopolitan daripada yang akhir

2.      Tahap Bujukan (Persuasi)
Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama adalah di bidang kognitif, maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif atau perasaan.
3.      Tahap keputusan
Tahap keputusan dari proses keputusan inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarahkan untuk menetapkan menerima atau menolak inivasi. Menerima berarti sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan menerapkan inovasi.
4.      Tahap implementasi
Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi. Pada tahap implementasi ini berlangsung keaktifan baik mental maupun perbuatan. Keputusan penerimaan gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktik. Pada umumnya implementasi tentu mengikuti hasil keputusan inovasi. Tetapi dapat juga terjadi karena sesuatu hal sudah memutuskan menerima inovasi tidak diikuti implementasi.
5.      Tahap konfirmasi
Pada tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya dan ia dapat menarik kesimpulan kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula.

C.     Factor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi pendidikan

Motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan jika dilacak biasanya bersumber pada dua hal, yaitu : (a) kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat, dan (b) adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan system social terjadi hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Agar kita dapat lebih memahami tentang perlunya perubahan pendidikan atau kebutuhan adanya inovasi pendidikan dapat kita gali dari tiga hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan belajar di sekolah, yaitu :
1.      Factor kegiatan belajar mengajar
Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga professional. Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan. Tetapi dalam pelksanaan pengelolaan kegiatan belajar mengajar terdapat berbagai factor yang menyebabkan orang memandang bahwa pengelolaan kegiatan belajar mengajar  mengandung banyak kelemahan, antara lain :
a.       Keberhasilan tugas guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh hubungan interpersonal antara guru dengan siswa.
b.      Kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan kegiatan yang terisolasi
c.       Sangat minimal bantuan teman sejawat untuk memberikan bantuan saran dan kritik guna peningkatan kemampuan professional.
d.      Belum ada criteria yang baku tentang bagaimana pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif
e.       Guru menghadapi sejumlah siswa yang berbeda satu dengan yang lain
f.       Guru dituntut untuk mencapai perubahan tingkah laku yang sama sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan sedangkan masing-masing siswa memiliki perbedaan individual
g.      Guru juga menghadapi tantangan dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan profesionalitasnya.
h.      Guru mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan mana yang diutamakan karena adanya berbagai macam tuntutan.
2.      Factor internal dan eksternal
Factor internal yang mempengaruhi pelaksanaan system pendidikan dan dengan sendirinya juga inovasi pendidikan ialah siswa. Siswa sangat besar pengaruhnya terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan tingkah laku siswa.
Factor eksternal yang mempunyai pengaruh dalam proses inovasi pendidikan ialah orang tua. Orang tua murid ikut mempunyai peranan dalam menunjang kelancaran proses inovasi pendidikan, baik ia sebagai penunjang secara moral membantu dan mendorong kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan sekolah, maupun sebagai penunjang pengadaan dana.
Para ahli pendidik merupakan factor internal dan eksternal , seperti : guru, administrator pendidikan, konselor. Ada juga para ahli di luar organisasi sekolah tetapi ikut terlibat dalam kegiatan sekolah seperti : para pengawas, inspektur, penilik sekolah, konsultan dan juga pengusaha yang mengadakan fasilitas bagi sekolah.
3.      System pendidikan (pengelolaan dan pengawasan)
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Penanggung jawab system pendidikan di Indonesia adalah Departemen Pendidikan Nasional yang mengatur seluruh system berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diberlakukan.
Dalam kaitan dengan adanya berbagai macam aturan dari pemerintah tersebut maka timbul permasalahan sejauh mana batas kewenangan guru untuk mengambil kebijakan dalam melakukan tugasnya dalam rangka menyesuaikan dengan situasi setempat. Demikian pula sejauh mana kesempatan yang diberikan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan professionalnya guna mengahdapi tantangan kemajuan jaman.

D.    Strategi inovasi pendidikan
1.      Strategi fasilitatif (facilitative strategies)
Pelaksanaan program perubahan social dengan menggunakan strategi fasilitatif artinya untuk mencapai tujuan perubahan social yang telah ditentukan, diutamakan penyediaan fasilitas dengan maksud agar program perubahan social akan berjalan dengan mudah dan lancar. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan strategi fasilitatif :
a.       Sasaran perubahan (klien) tepat
b.      Dilaksanakan dengan disertai program
c.       Menyediakan berbagai fasilitas
d.      Strategi fasilitatif tepat juga digunakan sebagai kompensasi motivasi yang rendah terhadap usaha perubahan social
e.       Menciptakan peran yang baru dalam masyarakat jika peran yang sudah ada tidak sesuai dengan penggunaan sumber atau fasilitas yang diperlukan
f.       Pusat kegiatan organisasi pelaksana perubahan social berada di lokasi tempat tinggal sasaran
g.      Menyediakan dana serta tenaga
h.      Perbedaan sub bagian akan menyebabkan perbedaan fasilitas yang diperlukan
i.        Strategi fasilitatif kurang efektif jika :
·         Digunakan pada kondisi sasaran perubahan yang sangat kurang untuk menentang adanya perubahan social
·         Perubahan diharapkan berjalan cepat, serta tidak sikap terbuka dari klien untuk menerima perubahan
2.      Strategi pendidikan (re-educative strategies)
Pendidikan juga dipakai sebagai strategi untuk mencapai tujuan perubahan social. Dengan menggunakan strategi pendidikan berarti untuk mengadakan perubahan social dengan cara menyampaikan fakta dengan maksud orang akan menggunakan fakta atau informasi itu untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan.
a.       Strategi pendidikan akan dapat digunakan secara tepat dalam kondisi dan situasi sebagai berikut :
·         Apabila perubahan social yang diinginkan, tidak harus terjadi dalam waktu yang singkat
·         Apabila sasaran perubaha (klien) belum memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan program perubahan social
·         Apabila menurut perkiraan akan terjadi penolakan yang kuat oleh klien
·         Apabila dikehendaki perubahan yang sifatnya mendasar dari pola tingkah laku
·         Apabila alas an atau latar belakang perlunya perubahan telah diketahui dan dimengerti atas dasar sudut pandangklien.
b.      Strategi pendidikan akan efektif jika :
·         Digunakan untuk menanamkan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai untuk digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya
·         Disertai dengan keterlibatan berbagai pihak
·         Digunakan untuk menjaga agar klien tidak menolak perubahan
·         Digunakan untuk menanamkan pengertian tentang hubungan antara gejala dan masalah
c.       Strategi pendidikan akan kurang efektif jika :
·         Tidak tersedia sumber yang cukup untuk menunjang kegiatan pendidikan
·         Digunakan dengan tanpa dilengkapi dengan strategi yang lain
3.      Strategi bujukan (persuasive strategies)
Program perubahan social dengan menggunakan strategi bujukan artinya untuk mencapai tujuan perubahan social dengan cara membujuk agar sasaran perubahan mau mengikuti perubahan social yang direncanakan.
a.       Strategi bujukan tepat digunakan bila sasaran perubahan :
·         Tidak berpartisipasi dalam proses perubahan social
·         Berada pada tahap evaluasi atau legitimasi dalam proses pengambilan keputusan
·         Diajak untuk mengalokasikan sumber penunjang perubahan dari suatu kegiatan atau program yang lain
b.      Strategi bujukan tepat digunakan jika :
·         Masalah dianggap kurang penting
·         Pelaksanaan program perubahan tidak memiliki alat control secara langsung
·         Menganggap mengandung suatu resiko yang dapat menimbulkan perpecahan
·         Perubahan tidak dapat dicobakan, sukar dimengerti dan tidak dapat diamati
·         Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan
4.      Strategi paksaan (power strategies)
Pelaksanaan program perubahan social dengan menggunakan strategi paksaan  artinya memaksa klie untuk mencapai tujuan perubahan. Penggunaan strategi paksaan perlu memperhatikan hal berikut :
a.       Strategi paksaan dapat digunakan apabila partisipasi klien terhadap proses perubahan social rendah dan tidak mau meningkatkan partisipasinya
b.      Apabila klien tidak merasa perlu untuk berubah atau tidak menyadari perlunya perubahan social
c.       Strategi paksaan tidak efektif jika klien tidak memiliki sarana penunjang untuk mengusahakan perubahan
d.      Strategi paksaan tepat digunakan jika perubahan social yang diharapkan harus terwujud
e.       Tepat dipakai untuk menghadapi usaha penolakan terhadap perubahan social
f.       Dapat digunakan jika klien sukar untuk mau menerima perubahan social
g.      Dapat digunakan untuk menjamin keamanan percobaan perubahan social yang telah direncanakan.


         












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan. Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan  memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan.
Model proses inovasi yakni :
1.      Berorientasi pada individual
2.      Berorientasi pada organisasi
Ada lima tahap prose keputusan inovasi yakni:
1.      Tahap Pengetahuan          
2.      Tahap bujukan
3.      Tahap implementasi
4.      Tahap konfirmasi

Macam strategi inovasi pendidikan terdiri atas :
1.      Strategi fasilitatif
2.      Strategi pendidikan
3.      Strategi bujukan
4.      Strategi paksaan

B.     Saran
Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah dan yang buruk datangnya dari kami, juga kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi. Oleh sebab itu, kritik maupun saran pembaca senantiasa kami harapkan agar dapat kami jadikan bahan perbandingan untuk karya-karya kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA


Prof. Udin Syaefuddin Saud, Ph,D, Inovasi Pendidikan
Widya Wati, Difusi dan Inovasi, 2010, Padang
Www.google.co.id=makalahprosesinovasipendidikan, diakses tanggal 12 September 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar