Senin, 25 April 2016

DRAFT PENERAPAN METODE INQUIRY PADA PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MIS AS'ADIYAH NO.3 SENGKANG KABUPATEN WAJO

DRAFT SKRIPSI

NAMA           : NURUL FADILAH
NIM                : 12220040
SEMESTER  : VII (Tujuh) B
JURUSAN     : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JUDUL          : PENERAPAN METODE INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH AS’ADIYAH NO. 3 SENGKANG KABUPATEN WAJO
 



A.      Latar Belakang Masalah
Menurut Dra. Hj. Nur Uhbiyati, pendidikan islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim.[1] Kepribadian muslim ini adalah merupakan tujuan akhir dari setiap usaha pendidikan Islam.[2] Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan Islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang utuh jasmani dan rohani yaitu manusia yang berguna bagi diri dan masyarakatnya serta senang mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya, dapat mengambil manfaat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini telah ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  
Artinya :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(Q.S. Al-Qashash :77) [3].

Tujuan pendidikan islam ini sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional di Negara kita, yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003, Bab II Pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[4]     

Dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab, manusia dapat mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat, serta menjaga diri dari membuat kerusakan di muka bumi.
 Untuk merealisasikan tujuan pendidikan islam maka hal utama yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan islam yaitu pengembangan kurikulum pendidikan agama islam itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan Muhaimin sebagai berikut :
“Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh-sungguh) untuk mengejawantahan ajaran dan nilai-nilai Islam, sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, tujuan, program kegiatan maupun pada praktik pelaksanaan pendidikannya. Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan sistem pendidikan Islam." [5]

Mengingat pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan peserta didik nantinya, maka pengembangan kurikulum tidak bisa dikerjakan sembarangan.
“Sebab kurikulum mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan, bahkan bisa dikatakan bahwa kurikulum memegang kedudukan dan kunci dalam pendidikan, hal ini berkaitan dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional [6]. 

Tanggung jawab besar yang dimiliki kurikulum untuk menghasilkan peserta didik yang baik merupakan bukti kuat yang menggambarkan betapa erat hubungan kurikulum dengan perkembangan peserta didik.
Seiring berjalannya waktu dan dengan semakin pesatnya tingkat intelektualitas dan kualitas kehidupan, dimensi pendidikan pun menjadi semakin kompleks, dan tentu saja hal itu membutuhkan sebuah desain pendidikan yang juga tepat dan sesuai dengan kondisinya. Karena itulah, berbagai teori, metode, dan desain pembelajaran dalam kurikulum dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasi semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan.

Sesuai Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 207 Tahun 2014 tentang kurikulum madrasah menetapkan pemberlakuan Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.[7] Dalam kurikulum ini terdapat perubahan yang signifikan terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam, beberapa model dan metode pembelajaran kontektual diterapkan sebagai sarana pengantar yang dianggap sesuai dengan keadaan peserta didik pada masa ini. Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peranan pendidik sangat penting artinya dalam proses pendidikan, karena dia yang bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut.[8]
Oleh karena itu, Guru sebagai pendidik harus mampu untuk melaksanakan pembelajaran model baru dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik. Bila metode yang digunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran itu tepat maka dapatlah diraih tujuan yang telah diprogramkan. Akan tetapi, sebaliknya kalau metode penyampaiannya tidak sesuai dan kurang tepat serta tidak sesuai dengan situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar, maka bagaimanapun baik dan terpujinya tujuan yang telah disusun mustahil dapat terwujud.
Dimana tidak ada metode mengajar yang lebih baik dari pada metode lain. Tiap-tiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan,. Ada metode yang tepat digunakan terhadap siswa dalam jumlah kecil. Ada yang tepat digunakan di dalam kelas ada pula yang tepat digunakan di luar kelas.
Adapun salah satu metode pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum 2013 ialah metode Inquiri. [9]  Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry”, yang secara harfiah berarti penyelidikan.[10] Penyelidikan dalam hal ini, peserta didik berusaha memperoleh informasi dengan cermat dan teliti melalui kegiatan ilmiah.
“Metode Inquiri merupakan suatu metode yang merangsang murid untuk berfikir, menganalisa suatu persoalan sehingga menemukan pemecahannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, bereksperimen, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain serta membandingkan penemuannya dengan penemuan dari peserta didik yang lain.” [11]

“Metode inipun adalah metode yang membina murid-murid untuk dapat berfikir ilmiah yaitu cara berfikir yang mengikuti jenjang-jenjang tertentu di dalam penyelesaiannya, kemampuan untuk memperoleh didikan, dapat dilatih dan dikembangkan dengan metode mengajar semacam ini.” [12]

Didalam pembelajaran dengan metode inquiri, peserta didik didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip serta pendidik mendorong peserta didik untuk memiliki pengalamannya sendiri. Metode inquiri juga memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawaban dari suatu persoalan.
Sesuatu tugas atau pelajaran harus menarik karena nilai–nilai yang intrinsik serta nyata kalau tidak, maka hasilnya kosong belaka. [13] Siswa tidak hanya mendapat tugas-tugas sesuai keinginan guru namun siswa juga dapat mencari tahu sendiri, menemukan sendiri, membuktikan sendiri dan menjawab sendiri permasalahan yang mereka hadapi.
Metode inquiri menjadikan pelajaran yang difahami peserta didik memiliki nilai, karena berasal dari hasil pemikiran dan sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri, dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip serta pendidik, mendorong peserta didik untuk memiliki pengalamannya sendiri, sehingga peserta didik  termotivasi untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran sampai selesai. Seseorang yang belajar penuh dengan semangat akan menguntungkan perbuatan belajar itu sendiri, sebab belajar akan lebih terasa tepat dan lebih baik, motivasi juga dapat menimbulkan perasaan gembira dalam belajar serta dapat memperkuat daya ingatan sehingga apa yang mereka pelajari tidak terlupakan. Dengan cara itu siswa juga akan memahami kegunaan apa yang dipelajari, sehingga akan terus belajar.
 “Metode inkuiri  ini hampir sama dengan metode pemecahan masalah (problem solving). Perbedaannya ialah dalam pemecahan masalah titik berat terletak pada terpecahkannya masalah sedangkan pada inkuiri titik berat terletak pada kedalaman pencarian sampai ditemukan pemecahan yang menyakinkan (proses pemecahan & kualitasnya).[14]

Metode inquiri bukan hanya menekankan aspek kognitif peserta didik, tetapi lebih kepada proses perkembangan kemampuan dan usaha peserta didik dalam menyelesaikan persoalan dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membentuk karakter peserta didik. Oleh karena itu, penulis merasa termotivasi untuk mengkaji permasalahan tersebut dan mengangkat ke dalam sebuah judul skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Inquiri dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo”.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis kemukakan maka yang menjadi rumusan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana penerapan metode inquiri dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No.3 Sengkang Kabupaten Wajo?
2.      Faktor – faktor apa yang mempengaruhi penerapan metode inquiri dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo?
C.      Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis memaparkan hipotesis sebagai dugaan sementara dari hasil observasi berikut ini:
1.      Penerapan metode inquiri dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No.3 Sengkang Kabupaten Wajo sudah terlaksana.
2.      Faktor – faktor yang mempengaruhi penerapan metode inquiri dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo adalah tingkat daya serap peserta didik dkemampuan guru.
D.      Pengertian Judul
Penelitian ini berjudul “Penerapan Metode Inquiri pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo”. Untuk lebih memudahkan memahaminya dan menghindari kesalahan penafsiran, maka perlu diberikan pengertian yang lebih jelas sebagai berikut:
Penerapan adalah pemasangan, pengenaan, perihal mempraktikkan.[15] Proses, cara, perbuatan menerapkan, pemasangan, pemanfaatan; perihal mempraktikkan, perbuatan menggunakan sesuatu kedalam obyek.
Metode merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan memiliki peranan yang sangat strategis. [16]
Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry”, yang secara harfiah berarti penyelidikan.[17] Inquiry merupakan suatu metode yang merangsang murid untuk berfikir, menganalisa suatu persoalan sehingga menemukan pemecahannya sendiri. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya”.
Pembelajaran yaitu proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa atau juga antara sekelompok siswa dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan keterampilan atau sikap serta menetapkan apa yang dipelajari.[18]
“Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam pada masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai dengan masa Khulafaurrasyidin.” [19]

Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo merupakan salah satu Madrasah Ibtidaiyah yang berada dibawah naungan yayasan As’adiyah dan telah terakreditasi A, yang terletak di Jalan Veteran Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo.
Dari beberapa pengertian di atas, penulis merumuskan defenisi operasional yang kemudian dijadikan fokus kajian pada tahap selanjutnya. Defenisi yang dimaksud oleh penulis adalah suatu kajian tentang upaya guru dalam menggunakan metode inquiri dalam proses pembelajaran sebagai suatu cara mengajar pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam proses pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 sengkang Kabupaten Wajo.
E.       Tinjauan Pustaka
Berdasarkan dari pengamatan penulis, mulai dari rumusan judul sampai tahap penyusunan skripsi ini, belum ada yang ditemukan sama dengan judul “Penerapan Metode Inquiri dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah No.3 Sengkang Kabupaten Wajo”. Akan tetapi, terdapat beberapa judul skripsi yang sebelumnya membahas mengenai beberapa hal terkait dengan kedisiplinan dan diantaranya yakni: Namun, Adapun skripsi terkait metode inquiri sebagai berikut:
1.      Skripsi berjudul “Penerapan Metode Inquiry dalam Pembelajaran PAI dan Dampaknya Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di SMP Negeri 1 Papar Kediri”, oleh saudari Ifa Miming Agustin tahun 2008, dalam skripsi ini fokus membahas tentang keterkaitan metode inquiri dengan motivasi belajar peserta didik.
2.      Skripsi berjudul Penerapan Metode Inquiry dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Alquran Hadis\| pada Siswa Kelas IV Madrasah Ibtidaiyyah Negeri Sumurejo Tahun Ajaran 2010/2011,oleh saudari Yayuk Sri Lestari Handayani pada tahun 2011, dalam skripsi ini fokus membahas tentang keterkaitan metode inquiri dengan prestasi belajar peserta didik .
Untuk membedakan skripsi ini dengan skripsi yang lain, maka penulis memfokuskan pada penerapan pola pembelajaran dengan menggunakan metode inquiri dalam penguasaan materi Sejarah Kebudayaan Islam dan faktor yang mempengaruhinya.
Walaupun tulisan ini bersifat lapangan, akan tetapi pembahasan ini berhubungan erat dengan buku. Adapun beberapa sumber yang digunakan sebagai referensi utama dalam penelitian ini.
1.      “Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan” oleh Dr. E. Mulyasa, M. Pd. yang membahas tentang cara praktis untuk menjadi guru professional, serta beberapa metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.
2.      “Metode Pembelajaran”, oleh Dra. Sumiati dan Asra, M.Ed., yang membahas mengenai hal penting yang diperhatikan dalam penerapan metode pembelajaran. Dalam buku ini penulis mendapat pemahaman tentang penerapan metode inquiri bersama dengan metode discovery.
3.      “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru” oleh Muhibbin Syah, M.Ed., membahas tentang program belajar mengajar dan faktor – faktor  yang mempengaruhinya.
Demikianlah, beberapa tinjauan pustaka yang penulis temukan berkaitan, membahas tentang metode secara umum sedangkan penelitian ini membahas secara khusus tentang metode inquiri. Dengan demikian penelitian ini masih layak di teliti.
F.       Metode Penelitian
Untuk menunjang keberhasilan suatu kegiatan, tentu memerlukan metode dalam pelaksanaannya, berikut ini merupakan metode yang dipergunakan dalam tahap-tahap penelitian yakni;
1.      Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yakni penelitian yang akan mengungkap atau menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan.
2.      Metode Pendekatan
Sebagaimana yang digunakan oleh penulis lain pada Jurusan Pendidikan Agama Islam, dalam hal ini penulis juga menggunakan metode pendekatan sebagai berikut:
a.       Pendekatan Pendidikan, Pendekatan ini adalah untuk memperoleh informasi dan data yang membicarakan tentang perubahan-perubahan individu yang terjadi karena proses belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo dalam mencapai suatu keberhasilan.
b.      Pendekatan psikologi adalah pendekatan untuk mengetahui  pengaruh kejiwaan terhadap sikap dan tingkah laku manusia.[20] Pendekatan ini adalah untuk memenuhi kondisi psikis semua komponen lembaga pendidikan yang bersangkutan .
3.      Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang akurat kemudian dikumpulkan sebagai bahan analisis dan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam hal penelitian penulis menggunakan metode sebagai berikut:
a.       Library Research (penelitian kepustakaan)
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara membaca buku, majalah, koran, atau sumber lainnya yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah.[21]Dalam penelitian kepustakaan ini, penulis menempuh, penulis menempuh dua cara yaitu:
1)      Kutipan langsung, yakni penulis mengutip teks buku atau sumber tanpa merubah redaksinya.
2)      Kutipan tidak langsung, yakni penulis mengutip teks dalam atau sumber lain dengan merubah redaksinya tanpa merubah makna.
b.      Field research (penelitian lapangan)
Penelitian lapangan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung tempat/lokasi penelitian.[22] Berikut ini merupakan beberapa teknik pengumpulan data yang ditempuh oleh penulis:
1)      Observasi, Sutrisno Hadi sebagaimana yang dikutip Sugiyono menyatakan observasi adalah suatu proses yang kompleks yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[23] Metode ini peneliti gunakan untuk melihat secara langsung proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah  No. 3 Sengkang.
2)      Wawancara, adalah salah satu instrumen yang digunakan dalam penelitian pendidikan. Pada teknik ini peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan siswa atau guru yang akan diteliti.[24] Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi terhadap data-data dari guru dan murid yang dalam hal ini sebagai pelaku pada proses pembelajaran. Adapun yang diwawancarai yaitu kepala madrasah dan guru Sejarah Kebudayaan Islam Kelas III, IV, V dan VI.
3)      Dokumentasi, Menurut Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah maupun dokumen-dokumen lain yang tertulis.[25] Sedangkan menurut Sugiyono mendefinisikan dokumentasi yaitu catatan peristiwa yang sudah berlalu, baik yang berbentuk tulisan, gambar maupun karya-karya yang monumental dari seseorang.[26] Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh dokumen-dokumen dan kebijakan yang terkait dengan Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo.
Adapun cara pengumpulan data, maka penulis perlu menegaskan mengenai lokasi penelitian populasi dan sampel serta proses samplingnya, yakni sebagai berikut:
1)      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yakni Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo.
2)      Populasi dan sampel
a)      Sehubungan dengan penelitian ini, dibutuhkan adanya objek penelitian yang di sebut populasi. Guna memperoleh data yang kongkrit dan akurat sebagaimana yang dibutuhkan dan diperlukan dalam pengumpulan data. Populasi ialah jumlah keseluruhan unit analisis, yaitu objek yang akan diteliti.[27] Adapun populasi peserta didik yang akan penulis teliti keseluruhannya berjumlah 207. Dari kelas III A sebanyak 38 orang, kelas III B sebanyak 33 orang, dari kelas IV A sebanyak 30 orang, kelas IV B sebanyak 25 orang, dari kelas V A sebanyak 20 orang, dari kelas V B sebanyak 20 orang, dan dari kelas VI sebanyak 41 orang. Adapun jumlah pendidik sebanyak 13 orang termasuk dengan kepala sekolah sekaligus sebagai pengajar.
Penelitian ini dilakukan untuk meneliti semua individu dalam populasi tersebut. Jadi semua populasi yang diteliti dijadikan sebagai sampel.
b)      Sampel
Sampel adalah sebagian individu yang diteliti dari keseluruhan individu penelitian.[28] Berdasarkan peninjauan penulis terhadap jumlah peserta didik dan guru di Sekolah Dasar Negeri 332 Mattirotappareng, maka penulis mengambil teknik penarikan sampel jenis sampling jenuh. Artinya teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai anggota populasi digunakan sebagai sampel.[29]
4.      Metode Analisis Data
a.         Data yang bersifat Kualitatif dianalisis dengan cara:
1)        Deduktif yaitu suatu cara atau jalan yang di pergunakan untuk mendapatkan pengetahuan atau asumsi dengan menganalisis permasalahan yang ada bertitik tolak dari kaidah berfikir yang bersifat umum, kemudian di tarik kesimpulan yang berlaku khusus.
2)        Induktif yaitu suatu cara atau jalan yang di pergunakan untuk memperoleh data atau iformasi dengan cara menganalisis data dengan menggunakan kadar berfikir yang berlaku khusus, kemudian di tarik kesimpulan bersifat umum.
3)        Komparatif, yaitu penulis yang mengidentifikasi permasalahan yang ada dengan terlebih dahulu membandingkan data-data dan informasi yang ada, dengan mempertimbangkan tingkat kesesuaian dengan pembahasan skripsi ini.[30]
b.         Data yang bersifat Kuantitatif dianalisis dengan teknik distribusi frekuensi, kemudian di jelaskan kembali ke dalam bentuk uraian.
G.      Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  1. Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui penerapan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menggunakan metode inquiri di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No.3 Sengkang Kabupaten Wajo.
b.      Untuk mengetahui kendala apa yang dihadapi pada saat implementasi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menggunakan metode inquiri di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No.3 Sengkang Kabupaten Wajo.
2.      Kegunaan Penelitian
a.         Untuk menambah pengetahuan bagi guru maupun calon guru (mahasiswa/i) khususnya pada jurusan Pendidikan Agama Islam tentang adanya pengaruh kedisiplinan dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
b.         Untuk memperoleh hal yang penting mengenai pengaruh kedisiplinan guru dalam perubahan dan peningkatan prestasi belajar peserta didik.
c.         Memberikan sumbangan positif, inspirasi, daya tarik atau minat bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian berkaitan dengan permasalahan yang terdapat di dalam lingkup pendidikan.
d.        Sebagai sumbangan bagi pihak sekolah, baik dari kepala sekolah maupun guru-guru yang meningkatkan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar yang bersifat agamis.
e.         Menambah wawasan ataupun pengalaman dalam mencermati masalah yang terjadi pada lingkup pendidikan yang harus memperhatikan kedisiplinan.
f.          Menambahkan pengetahuan bagi kepustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam.
H.      Garis-Garis Besar Isi Skripsi
Untuk memudahkan para pembaca dalam memahami secara singkat isi skripsi, maka penulis menggambarkan dalam bentuk alenia pada setiap bab.
Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan, yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, hipotesis, pengertian judul, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian, serta garis-garis besar isi skripsi.
Bab kedua yakni tinjauan umum tentang profil madrasah Ibtidaiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo, sebagai objek penelitian, latar belakang berdirinya, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana.
Bab ketiga, Kajian tentang metode inquiri dalam pembelajaran membahas tentang konsep proses pembelajaran yang berisi pegertian belajar dan pengertian mengajar, konsep metode mengajar yang berisi pengertian metode dan kedudukan metode mengajar dalam proses pembelajaran dan metode inquiri dalam proses pembelajaran.
Bab keempat yaitu penulis mengemukakan pembahasan dan hasil penelitian yang terdiri atas dua sub bab meliputi, penerapan metode Inquiri dalam pembelajaran sejarah kebudayaan islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo, dan kendala-kendala penerapan metode inquiri pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 sengkang Kabupaten Wajo. Bab kelima, adalah penutup sebagai bab terakhir yang terdiri dari dua sub yaitu kesimpulan dari hasil penelitian dan implikasi penelitian yang berisi saran-saran dari penulis.



KOMPOSISI BAB
BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Rumusan Masalah
C.     Hipotesis
D.    Pengertian Judul
E.     Tinjauan Pustaka
F.      Metodologi Penelitian
G.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
H.    Garis-Garis Besar Isi Skripsi
BAB II . TINJAUAN TEORITIS
A.    Metode Inquiri
B.     Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
C.     Metode Inquiri dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
BAB III. PROFIL MADRASAH ITIDAIYAH AS’ADIYAH NO. 3 SENGKANG KABUPATEN WAJO
A.    Latar Belakang Berdirinya
B.     Keadaan Guru dan Peserta Didik
C.     Keadaan Sarana dan Prasarana
BAB IV. PENERAPAN METODE INQUIRI PADA PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MADRASAH IBTIDAIYAH NO.3 SENGKANG KABUPATEN WAJO
A.    Penerapan Metode Inquiri dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 Sengkang Kabupaten Wajo.
B.     Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Metode Inquiri pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 3 sengkang Kabupaten Wajo.
BAB V. PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran



[1]  Lihat Dra.Hj.Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam I, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1998) h.11
[2] Dra. Zuhairini, et al. FILSAFAT pendidikan Islam (Ed. I; Cet. VI Jakarta : Bumi Aksara, 2012) h.186.
[3]Departemen Agama RI Tahun 2005, Al-Qur’an dan Terjemahnya,(Jakarta: CV.Kathoda, 2005) h.383.
[4] Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), beserta penjelasannya, ( Cet. II; Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 7.
[5]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h.1
[6]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum,; Teori dan Praktek, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 5
[7]Lihat, Keputusan Menteri Agama RI Nomor 207 tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah, (Jakarta : Menteri Agama RI, 31 Desember 2014).
[8] Dra. Zuhairini, et.al., Op.Cit, h.167
[9]Lihat, Menteri Agama RI, Lampiran KMA No. 912 tahun 2013 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. (Jakarta: Menteri Agama RI, 9 Desember 2013),h.316
[10] Dr.E.Mulyasa, M.Pd., Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2009),h.108
[11] Ibid.
[12] Yusuf Djajadisastra. Metode-Metode Mengajar (Bandung: Angkasa, 1985), h. 19
[13] J.Mursell dan S.Nasution., Mengajar dengan Sukses (Successful teaching),(Jakarta : Bumi Aksara, 2006), h. 26
[14] Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991),h.116
[15] W.J.S. Poerwadarminta, KAMUS UMUM BAHASA INDONESIA ,(Jakarta: PN BALAI PUSTAKA, 1976),h. 1059.
[16]Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit, h. 86.
[17] Dr.E.Mulyasa, M.Pd., Loc.Cit.
[18] S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta: Bina Aksara, 1999), h. 102.
[19] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab, Loc.Cit
[20] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Karya, 1995), h. 1.
[21]I.J. Supranto, Metode Riset (Jakarta; Rineka Cipta, 1997), h. 13.
[22] M. Sabanah, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah (Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), h. 143.
[23]Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta, 2006), h.166.
[24] Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), h. 79
[25] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta,2006), h.231.
[26] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabet,2009), h.329.
[27] Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial  (Cet. VII; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), h. 57.
[28] Cholid Narbuko & H. Abu Achmadi, Metodologi Penelitian (Cet. V; Bandung 2003) h.107.
[29] Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian (Cet. XV; Jakarta: CV. Alfabeta, 2009), h. 68.
[30] Winarno Surachmad, Dasar Tehnik Research Pengantar Metodologi Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1972), h. 137.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar