Minggu, 15 November 2015

SISTEM PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI'IYAH TEBUIRENG JOMBANG



 






  MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi  tugas mata kuliah  Pengembangan Kurikulum PAI Semester VII B pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi
 Agama Islam (STAI) As’adiyah Sengkang

Oleh : Kelompok VII

NURUL FADILAH
NIM :  12220040


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AS’ADIYAH SENGKANG
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT ,kami mohon ampun dan pertolongan hanya kepada-Nya. Shalawat serta salam selalu tercurah keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman kebodohan  ke zaman penuh ilmu pengetahuan yang berkat Ilmu itu penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI dengan judul  Sistem Pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Jombang ”.
Terima Kasih yang tidak terhingga penulis haturkan kepada orang tua yang telah memberikan dukungan penuh kepada kami, begitu pula kepada Dosen Pembimbing, yang selalu memberikan kritik-kritik membangun demi terwujudnya penulis menjadi mahasiswa yang berguna .
Harapan besar  penulis semoga makalah ini dapat menjadi manfaat dan memberi beberapa wawasan baru bagi kami khususnya, teman-teman dan pada pembaca sekalian pada umumnya.
                                                                             Sengkang, 9 September 2015
                                                                              Penulis

                                                    Nurul Fadilah

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................      1-2
A.         Latar Belakang Masalah................................................................      1
B.         Rumusan Masalah.............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................      3-16
A.       Sistem Pendidikan Di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Jombang       3
BAB III. PENUTUP............................................................................................     17-18
A.        Kesimpulan....................................................................................     17
B.         Saran  ............................................................................................     18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................     19


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam yang  tertua di Indonesia. Secara terminologis pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Unsur-unsur pesantren yaitu : pelaku (kyai, ustadz, santri dan pengurus), sarana perangkat keras (masjid, rumah kyai, pondok, gedung perpustakaan, aula), sarana perangkat lunak (tujuan, kurikulum, kitab, buku-buku, cara belajar, evaluasi belajar mengajar.[2]
Ditinjau dari keterbukaan terhadap perubahan yang terjadi dari luar, pesantren dibagi menjadi 2, pesantren tradisional/salafi yang bersifat konservatif dan pesantren khalafi/modern yang besifat adaptif.[3]
Tebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektar ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim.[4]
Merupakan salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada tahun 1899.[5]
Pondok Pesantren Tebuireng yang pada awal berdirinya adalah bertipe salaf, dalam dinamikanya dan untuk sekarang ini tidak lagi dapat disebut dengan Pondok Pesantren Salaf sama sekali. Akan tetapi, pesantren ini di samping masih mempertahankan sistem pendidikan salaf, dengan mengikuti perkembangan zaman, menerapkan juga sistem pendidikan modern.
Menapaki akhir abad ke-20, Pesantren Tebuireng menambah beberapa unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA). Bahkan unit-unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly, disamping unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya (akan dijelaskan kemudian). Semua unit tersebut (selain UNHASY), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sistem pendidikan di pondok pesantren salafiyah syafi’iyah Tebuireng Jombang?


[1] Dr. Mujiono Damopoli, M. Ag., Pesantren Modern Immim. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2011, h. 57-58
[2] Lihat Zamakhsari Dhofier., Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES, 1990, h. 44.
[3] Prof. Dr. Mujamil Qamar., Manajemen Pendidikan Islam., Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama,. h. 58.
[5] Ibid.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sistem Pendidikan Pondok Salafiyah Syafi’iyah Pesantren Tebuireng
1.      Status Kelembagaan
            Status kelembagaan pondok pesantren salafiyah syafi’iyah Tebuireng berstatus milik yayasan, yang menempatkan kyai sebagai tokoh kunci, dan keturunannya memiliki peluang terbesar untuk menjadi penggantinya.
2.      Struktur Organisasi
            Pada tahun 1899 M, belum ada istilah struktur organisasi pengurus dan personalia, yang ada hanya istilah lurah pondo yang bertugas menangani semua kegiatan-kegiatan para santri dalam bidang kependidikan, dan sistem pengajaran juga masih menggunakan sistem sorogan dan sistem weton. Langkah-langkah pengurus kolektif inipun jelas nampak membawa kemajuan besar dalam bidang:
a.       Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah maupun pondok bias berjalan dengan tertib, dengan terbentuknya beberapa kelompok musyawaranh kelas yang diadakan dua kali setiap minggu.
b.      Khusus ketertiban didalam kelas selama belajar.
c.       Ketertiban dalam bidang administrasi dan keuangan yang dikoordinir langsung oleh sekertaris umum dan bendahara.
d.      Pengelolaan pembangunan fisik bangunan gedung, penyediaan air, penerangan dan sebagainya.
e.       Bekerja sama dengan pihak bank, yang merupakan pusat central dalam menerima pembayaran yang berkaitan dengan pembayaran bulan.
            Kyai merupakan power dan tokoh kunci pesantren. Kedudukan dan kekuasaannya kuat sekali. Bagi komunitas pesantren terutama santri menghargai kyai dilandasi dengan ikhlas, ibadah, dan berkah.
3.      Pesantren sebagai Subkultur
Pesantren merupakan bagian dari Indonesia.
Keberadaan komunitas pesantren Tebuireng adalah komunitas yang beragam latar belakangnya, baik latar belakang daerah asal, suku, stratifikasi sosial, dan status ekonomi. Tetapi keragaman latar belakang itu relatif dapat disatukan sebagai kesatuan komunitas. Komunitas pesantren pada dasarnya adalah tengah masyarakat dengan kompleksitas permasalahan yang ada didalamnya. Pandangan ini didasarkan pada kreteria minimal dimana pesantren sebagai kesatuan komunitas memiliki aspek-aspek berikut: eksistensi pesantren sebagai lembaga kehidupan yang berada dari pola kehidupan umum di negeri ini terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren; berlangsungnya proses pembentukan tata nilai, yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya, adanya daya tarik keluar, sehingga memungkinkan masyarakat sekitar menganggap sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri dan berkembangnya suatu proses pengaruh mempengaruhi dengan masyarakat diluarnya, yang akan berakulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima kedua belah pihak.[6]
4.      Pola Kepemimpinan Kyai dan Perubahannya
            Kyai dipandang sebagai tokoh secara ideal oleh komunitas pesantren tersebut dan sebagai sentral figur yang mewakili keberagaan mereka. Peran kyai dalam pandangan ideal tersebut sangat vital, baik sebagai mediator, dinamisator, katalisator, motivator, maupun sebagai power bagi komunitas yang dipimpinnya. Sebab keberadaan kyai bagi komunitans yang dipimpinnya bukan sekedar menjadi wakil untuk menjalin hubungan dengan dunia luar pesantren, melainkan juga dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat serta lembaga-lembaga islam.[7]
            Mengingat peran kyai begitu besar, maka sosok kyai sebagai pemimpin harus memiliki kriteria ideal sebagai berikut: 1. Kyai harus dipercaya, 2. Kyai harus ditaati, 3. Kyai  harus diteladani oleh komunitas yang dipimpinnya. Di pondok Pesantren Tebuireng terdapat suatu pandangan yang berkait erat dengan kriteria dan prasyarat ideal atas keberadaan seorang tokoh kyai sebagai pemimpin pesantren sekaligus pemimpin umat. Semakin konsisten dan konsekuen seorang kyai memenuhi kreteria ideal tersebut, maka semakin kuat pula ia dijadikan tokoh pemimpin, tidak saja oleh komunitas pesantren yang dipimpinnya melainkan oleh seluruh umat islam yang ada di Indonesia. Sebagai contoh KH. M. Hasyim Asy’ari, pemimpin dan pendiri pesantren Tebuireng, adalah salah seorang diantara kyai yang pernah ada di Indonesia yang tidak saja dijadikan pemimpin bagi komunitas pesantrennya melainkan oleh umat islam Indonesia pada umumnya dimana beliau diberi gelar oleh para kyai: Hadratus Syekh yang artinya Tuan Guru Besar.[8]
`           Pada saat KH. M. Hasyim Asy’ari memimpin pesantren Tebuireng komunitas pesantren masyarakat islam pada umumnya manganggap bahwa beliau memiliki karamah, sebagaimana anggapan terhadap sebagian pimpinan di tiga pondok sebelumnya. Dengan adanya anggapan tersebut pada gilirannya menganggap KH. M. Hasyim Asy’ari disamping sebagai pengajar dan pendidik juga menjadi pola anutan, pemimpin sepiritual, dan figur yang dianggap dapat memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
            Setelah KH. M. Hasyim Asy’ari wafat, maka terjadi pergeseran-pergeseran dalam pola kepemimpinan yaitu pola kepemimpinan karismatik itu mulai diwarnai oleh pola kepemimpinan tradisional. Penerimaan tongkat kepemimpinan berikutnya setelah KH. M. Hasyim Asy’ari (1899-1947) adalah putranya KH. A. Wahid Hasyim (1947-1950). Sebelum menjadi pemimpin di pesantren Tebuireng, Dengan bekal keilmuan yang cukup, pengalaman yang luas serta wawasan global yang dimilikinya, Kiai Wahid mulai melakukan terobosan-terobosan besar di Tebuireng. Awalnya dia mengusulkan untuk merubah sistem klasikal dengan sistem tutorial, serta memasukkan materi pelajaran umum ke pesantren. Usul ini ditolak oleh ayahnya, karena khawatir akan menimbulkan masalah antar sesama pimpinan pesantren. Namun pada tahun 1935, usulan Kiai Wahid tentang pendirian Madrasah Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, diterima oleh sang ayah.
            Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid Tebuireng. Siswa pertamanya berjumlah 29 orang, termasuk adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Dalam bidang bahasa, selain materi pelajaran Bahasa Arab, di Madrasah Nidzamiyah juga diberi pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda. Untuk melengkapi khazanah keilmuan santri, pada tahun 1936, Kiai Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam yang kemudian diikuti dengan pendirian taman bacaan (perpustakaan) yang menyediakan lebih dari seribu judul buku. Perpustakaan Tebuireng juga berlangganan majalah seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan pesantren manapun di Indonesia.
            Pada tahun 1947, ketika sang ayah meningal dunia, Kiai Wahid terpilih secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang. Terpilihnya Kiai Wahid sebenarnya sekadar ”formalisasi”, karena kenyataannya beliau sudah lama ikut membantu sang ayah mengelola Tebuireng.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.
            Namun, karena KH. A. Wahid Hasyim pindah ke Jakarta pada masa itu, maka beliau digantikan oleh adiknya yaitu KH. A. Karim Hasyim (1950-1951) dalam memimpin pesantren Tebuireng.  Selama satu tahun memimpin Tebuireng, Kiai Karim banyak melakukan reorganisasi dan revitalisasi sistem madrasah. Pada masa kepemimpinannya, madrasah-madrasah di berbagai pesantren sedang mengalami masa-masa suram. Dikatakan suram karena sejak penyerahan Kedaulatan RI dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RI tahun 1949, Pemerintah lebih memprioritastan sistem persekolahan formal (schooling) daripada madrasah. Sebuah perlakuan diskriminatif yang tidak adil. Perlakuan diskriminatif lainnya terlihat dari keputusan bahwa yang boleh menjadi pegawai negeri hanya mereka yang lulus sekolah umum.
            Oleh sebab itu, madrasah-madrasah di Tebuireng pun akhirnya diformalkan sesuai dengan sistem persekolahan. Jika sebelumnya jenjang madrasah hanya dua tingkat, yakni Shifir dan Ibtidaiyah, pada masa Kiai Karim ditambah menjadi tiga tingkat. Yaitu Shifir dua tahun, Ibtidaiyah enam tahun, dan Tsanawiyah tiga tahun. Periode Kiai Karim merupakan masa transisi menuju intregasi sistem salaf dan sistem formal. Inilah tonggak awal dimulainya era pendidikan formal di Pesantren Tebuireng, yang kemudian diikuti oleh sejumlah pondok pesantren lainnya, khususnya di tanah Jawa.
            Pada masa Kiai Karim, didirikan pula Madrasah Mu’allimin enam tahun. Jenjang ini lebih berorientasi pada pencetakan calon guru yang memilki kelayakan mengajar. Selain pelajaran agama dan umum, para siswa Mu’allimin juga dibekali keahlian mengajar seperti didaktik-metodik dan ilmu psikologi. Dengan adanya jenjang Mu’allimin, permintaan tenaga guru dari berbagai daerah dapat dipenuhi.
            Setelah satu tahun mengasuh Tebuireng, Kiai Karim menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Kiai Baidlawi, yang merupakan kakak iparnya sendiri. Ini merupakan klimaks dari persoalan internal Keluarga Bani Hasyim. Sebagian Keluarga Bani Hasyim menganggap Kiai Karim jarang bermusyawarah dalam mengambil kebijakan pengelolaan pesantren, disamping karena beliau dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi dan Wahabi di Jawa Timur. Ada pula yang yang menganggapnya sebagai pengikut tarekat Wahidiyyah, padahal pesantren Tebuireng merupakan salah satu pusat tarekat Qadiriyyah.
            Pergantian jabatan pengasuh Tebuireng dari Kiai Karim kepada Kiai Baidlawi, merupakan hal yang baru dari sistem kepemimpinan Tebuireng, karena seorang menantu dapat menggantikan kedudukan anak kandung di saat si anak kandung masih hidup. Oleh sebab itu beliau memimpin pesantren hanya satu tahun, KH. A. Karim hasyim digantikan oleh kakak iparnya yaitu K. Baidlowi (1951-1952) yang juga hanya memimpin satu tahun.
            Selama masa kepemimpinannya, Kiai Baidlawi tidak melakukan perubahan sistem maupun kurikulum di Tebuireng. Kiai Baidhawi meneruskan dan memelihara sistem yang sudah ada. Ketika kepengasuhan Tebuireng ingin diteruskan oleh KH. Abdul Kholik Hasyim, Kiai Baidhawi sama sekali tidak merasa keberatan. Dia menyerahkan kursi pengasuh kepada adik iparnya itu dengan ikhlas hati. Baginya, figure pemimpin tidaklah penting. Yang penting adalah kelangsungan proses belajar-mengajar di pesantren Tebuireng, terlepas siapa pengasuhnya. Meskipun tidak lagi menjadi pengasuh Tebuireng, Kiai Baidhawi tetap tekun membantu proses belajar-mengajar di sana. Beliau ikut mengajar di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng. Tak jarang bila ada waktu longgar, beliau memantau para santri ke kamar-kamar.
            Pola kepemimpinan KH. A. Kholik adalah kepemimpinan karismatik, walaupun karisma yang dimilikinya tidak sehebat KH. M. Hasyim Asy’ari tetapi komunitas yang dipimpinnya meyakini bahwa karamah KH. M. Hasyim Asy’ari telah diwarisi oleh KH. A. Kholok dikenal dengan pemimpin pesantren yang secara luas mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian dan kanuragan, sehingga ia lebih dikenal sebagai tokoh pengajar kitab salaf. Keberadaan KH. A. Kholik Hasyim sebagai pemimpin Pesantren Tebuireng tampaknya menjadi figur sentral yang tidak saja dipatuhi dan disegani oleh komunitas pesantren, melainkan masyarakat umum pun mengakuinya. Tidak ada satu pun yang ditetapkan kebijakan dibantah oleh komunitas pesantren Tebuireng maupun keluarga Bani Hasyim, baik kebijakan yang bersifat kurikuler maupun yang bersifat politis.
            Ketika Kiai Kholik meninggal tahun 1965, kepemimpinan pesantren diserahkan kepada KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau Pak Ud (1965-2006), adik bungsu Kiai Kholik yang saat itu masih aktif di Jakarta sebagai politikus. Di bawah kepemimpinan Pak Ud, pola kepemimpinan rasional semakin kentara. Pendirian UNHASY, SMP, SMA, serta unit-unit lain yang pengelolaannya diserahkan kepada semacam dewan rektor/sekolah, menunjukkan bahwa pola kepemimpinan Pak Ud adalah rasional-manajerial. Secara pribadi, Pak Ud tidak perlu lagi terjun secara langsung atau berada dalam proses belajar-mengajar di pesantren, karena hal itu sudah dikelola oleh pengurus pesantren atau unit pendidikan yang ada.
            Pola rasional-manajerial juga terlihat pada saat kepemimpinan Tebuireng beralih kepada penggantinya, KH. Salahuddin Wahid (Gus Solah). Pola kepemimpinan Gus Solah mengacu pada pola kepemimpinan kolektif. Tingkat partisipasi komunitas cukup tinggi, struktur keorganisasian lebih kompleks, pola kepemimpinan tidak mengarah kepada satu individu melainkan lebih mengarah kepada kelembagaan, dan mekanismenya diatur secara manajerial.
            Dalam memutuskan persoalan penting, Gus Solah selalu berkonsultasi atau meminta masukan dari pengurus pondok dan pengurus Yayasan, kiai dan tokoh masyarakat, keluarga serta para alumni senior. Berbeda dengan masa kepemimpinan Kiai Hasyim, yang tidak memerlukan konsultasi dengan siapapun dalam mengambil kebijakan.[9]
5.      Sistem Pengajaran Kitab-Kitab Kuning   
            Pesantren sebagai lembaga pendidikan islam secara selektif bertujuan menjadikan para santrinya sebagai menusia yang mandiri yang diharapkan menjadi pemimpin umat yang menuju ibtighaa mardhati-llahi (mengharap keridhaan Allah). Untuk mencapai tujuan tersebut maka pesantren mengajarkan Tauhid, fiqh, Tafsir, Hadis, Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Badi’, dan Bayan, Ushul fiqh, Mustholah al-Hadis, dan Mantiq.
            Pengajaran untuk ilmu-ilmu tersebut sering distandarisasikan dengan pengajaran kitab-kitab wajib (Kutub al Mukarrarah) sebagai buku teks yang dikenal dengan sebutan kitab kuning. Beragam kitab yang dikaji di pesantren Tebuireng mulai yang sederhana seperti  Safinatunnajah, Tarqib, Al Jurumiyyah, Mutamimah, Alfiyah, Tafsir Jalalain Fathul Wahab, Mahali, Minhaju Al Quwiem, sampai ke materi takhasus.
            Sistem pendidikan di lingkungan pesantren Tebuireng cenderung mengalami perubahan dan pergeseran dari masa ke masa. Perubahan tersebut tahun demi tahun mengalami kemajuan, dinamika yang ada benar-benar menggembirakan. Ada beberapa sistem pengajaran yang digunakan untuk mempelajari dan mendalami kitab kuning di pondok pesantren, yaitu weton (Kiai membaca kitab dan santri memberi makna), sorogan (Santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning dihadapan guru) , muhadarah, mudzakarah, dan majelis ta’lim. Hanya saja yang sering dipakai adalah sistem weton dan sorogan. Sedang yang lainnya jarang digunakan karena merupakan latihan bercakap-cakap dangan bahasa arab yang di sebut muhadarah dan muhadasah, dan bentuk seminar seperti mudzakarah.
            Sistem pengajaran kitab-kitab kuning yang diterapkan di pondok pesantren Tebuireng Jombang, tidak di klasifikasikan dalam tingkatan-tingkatan berdasarkan jenjang umur dalam kurikulum sebagaimana yang dikenal dalam sistem persekolahan. Sistem sorogan dan weton diterapkan di pesantren Tebuireng secara liberal dalam proses belajar mengajar. Dengan dianutnya liberalisasi dalam proses belajar mengajar ini, kemungkinan bagi siswa untuk tidak mengikuti pelajaran adalah lebih besar karena tidak adanya ikatan formal dalam belajar , baik yang menyangkut absensi kehadiran maupun silabus mata pelajaran yang terprogram.
            Setelah diresmikannya Forum Bahtsul masa`il Mahad Aly Hasyim Asy`ari Tebuireng  dan juga bimbel (bimbingan belajar) kitab kuning pada kamis (02/09) oleh KH Ahmad Syakir Ridwan (Wakil Mudir Ma’had Aly), pengurus langsung tancap gas. Pertemuan pertama bimbel dilaksanakan pada Jum`at siang, di ruang kelas Ma’had Aly. (09/10/2015). Bimbel ini dibagi atas beberapa kelas, ada kelas A, B, dan C. Untuk Kelas A (pemula), bagi mereka yang belum bisa nulis pegon dan belum pernah belajar ilmu nahwu. Kelas B (sedang), bagi mereka yang sudah bisa menulis pegon dan mendalami kitab al-Ajurumiyah. Sedangkan untuk kelas C (mahir), bagi mereka yang sudah paham isi kitab al-Ajurumiah dan bisa baca kitab gundul (red: tanpa harakat) taqrib (matan fathul qarib). Pembelajaran dilaksanakan setiap Jum`at pagi dan siang.Menurut salah satu pengajar, Ustadz Muhammad Zaenal Karomi, rata-rata dari mereka sudah tahu tentang ilmu nahwu, akan tetapi karena jarang dibaca berulang-ulang (muraja’ah) mereka jadi lupa. Hal itu yang menjadi perhatian khusus para pengajar bimbel saat ini.“Sebenarnya mereka sudah punya kemampuan dasar (basic skill), tinggal mengarahkan saja,” ujar mahasantri Mahad Aly semester V ini. Selain menyampaikan materi, pengajar juga memasukkan sisipan motivasi tentang bagaimana cara membaca kitab kuning yang baik dan benar sesuai kaidah ilmu nahwu.”Saya juga menyisipkan motovasi disela-sela pengajaran, untuk menambah semangat mereka,” tambah lelaki asal Pekalongan ini. [10]
6.      Sistem Madrasah dan Sekolah Umum
Sistem madrasah ini merupakan sistem klasikal yang pertama kali muncul di pondok pesantren Tebuireng pada tahun 1916 oleh kyai Ma’shum, menantu pertama Hadratus syekh dan mengenal pengajaran pengetahuan umum pada tahun 1919. Diawal berdirinya sistem madrasah, maka kurikulum yang berlaku tetap berpedoman pada pedoman yang pertama yaitu 100% agama, baru setelah terjadi pergantian pimpinan mulailah terjadi pergeseran yang ada, yaitu dengan memasukan materi umum namun tetap mempertahankan ciri khas pesantrennya.
Sistem madrasah di pesantren Tebuireng ada tiga tingkatan yaitu madrasah Tsanawiyah yang setingkat dengan SLTP, dan Madrasah Aliyah yang setingkat dengan SLTA serta madrasah Al-Qur’an. Madrasah-madrasah tersebut mempertahankan berstatus swasta, walaupun tetap mengikuti ujian Negara yang hasilnya pun tidak mengecewakan, karena hampir rata-rata lulus 100% setiap tahunnya. Sehingga seorang siswa Tsanawiyah ataupun Aliyah maupun madrasah Al-Qur’an setelah selesai dibangku pelajaran dapat memperoleh dua ijazah dari salafiyah syafiiyah satau madrasah Al-Qur’an dan ijazah Negara. Sesuai dengan peredaran zaman, mulailah pondok pesantren Tebuireng mulai membuka lembaga pendidikan umum dengan tetap memberikan materi keagamaan yang merupakan ciri khasnya yaitu dengan tambahan diniyahnya.
Madrasah diniyah berdiri pada tahun 1979-1980.[11] Sebenarnya madrasah diniyah ini pada mulanya diberi nama pengajian pagi, kemudian awal tahun 1984 namannya diganti menjadi diniyah. Madrasah diniyah yang secara khusus diarahkan untuk mendalami ilmu agama dan mempertinggi kualitas ilmu agama bagi kalangan murid-murid kalangan umum seperti SMP dan SMA.
            Sekolah umum yang ada di Tebuireng ada dua tingkatan yaitu SMP A. Wahid Hasyim. Status SMA Wahid Hasyim disamakan pada tahun 1990, sedang SMP A. Wahid Hasyim juaga disamakan pada tahun 1992. Dengan didirikannya SMA agar mereka kelak setelah lulus dari SMA A. Wahid Hasyim dapat melanjutkan keperguruan tinggi ataupun terjun ditengah-tengah masyarakat tidak canggung-canggung lagi. Menapaki akhir abad ke-20, Pesantren Tebuireng menambah beberapa unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA). Bahkan unit-unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly, disamping unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya (akan dijelaskan kemudian). Semua unit tersebut (selain UNHASY), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang.
            . Kali ini pesantren yang dipimpin KH Shalahudin Wahid ini membuka pendidikan SMA Trensains yang dipusatkan di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Jombang. Di bawah naungan Pesantren Tebuireng II, SMA trensains didirikan diatas lahan seluas 4 hektar, pada tahun ajaran baru 2014 ini telah menerima sebanyak 120 siswa. "Di Indonesia baru ada dua, dan yang disini siswa yang masuk sebanyak 120 siswa. Yakni 70 siswa putri dan 50 putra," ujar Agus Purwanto Penggagas SMA Trensain disela sela peresmian yang dihadiri langsung Menteri Agama RI, Lukman Hakim, Sabtu (22/8). SMA trensains sendiri lanjutnya merupakan penggabungan sistem pendidikan agama dan sains yang selama ini masih belum ada. Trensains didesain khusus dan berkonsentrasi pada sains dengan berbasis pemahaman dan nalar ayat ayat semesta. "Seperti disebutkan dalam Al quran mengapa ada surat yang diberi An Naml (semut) ini siswa harus mempelajari ayat ayat dalam surat ini, sehingga bisa mengetahui apa yang tersirat dalam surat Semut ini," ujar dosen ITS ini dalam sambutannya. Agus menambahkan, SMA Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Alqur'an dan hadist kealaman dan interaksinya." Yakni Interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas SMA trensains yang berbeda dengan sekolah di kalangan pondok modern lain,"tandasnya. Agus menambahkan, para siswa atau santri trensains dibimbing untuk mempunyai kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai. Konsep dasar limit, diferensial dan integral perlu diperkenalkan sebagai alat analisis dan memahami fisika." Proyeksi kedepan, lahir ilmuwan sains kealaman, rekayasa dan dokter yang mempunyai basis Al-Quran yang kokoh," pungkasnya.  KH Salahudin Wahid mengatakan, SMA trensains merupakan paduan antara ilmu agama dan sains. Model pendidikan ini dikatakannya mengembangkan apa yang telah dilakukan ayahnya KH Wahid Hasyim yang juga berusaha menggabungkan pendidikan umum dengan memberi materi agama untuk pendidikan umum dan juga pendidikan pesantren dengan materi umum yang sempat ditolak para ulama dan kiai. "Pada dasarnya kita melanjutkan apa yang telah dilakukan KH Wahid Hasyim dulu, dan tebuireng kini mengembangkan itu," tuturnya seraya mengatakan hingga saat ini belum ada pesantren atau sekolah Islam yang mengambil khusus untuk memperdalam Sains.[12] 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan  
1.      Status Kelembagaan : Status kelembagaan pondok pesantren salafiyah syafi’iyah Tebuireng berstatus milik yayasan.
2.      Struktur Organisasi : Pimpinan tertinggi memimpin sayap pertama dan kedua, yang mirip dengan seorang direktur. Bila dilihat dari segi ajaran, mekanisme penyelanggaraan pesantren tunduk pada dewan kyai, tetapi jika dilihat dari segi organisasi, penyelenggaraan pesantren tunduk pada direktur pesantren.
3.      Pesantren sebagai Subkultur : Keberadaan komunitas pesantren Tebuireng adalah komunitas yang beragam latar belakangnya.Tetapi keragaman latar belakang itu relatif dapat disatukan sebagai kesatuan komunitas. Komunitas pesantren pada dasarnya adalah tengah masyarakat dengan kompleksitas permasalahan yang ada didalamnya.
4.      Pola Kepemimpinan Kyai dan Perubahannya : Kyai dipandang sebagai tokoh secara ideal oleh komunitas pesantren tersebut dan sebagai sentral figur yang mewakili keberagaan mereka.
5.      Sistem Pengajaran Kitab-Kitab Kuning  : mengajarkan Tauhid, fiqh, Tafsir, Hadis, Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Badi’, dan Bayan, Ushul fiqh, Mustholah al-Hadis, dan Mantiq.
6.      Sistem Madrasah dan Sekolah Umum : Sistem madrasah ini merupakan sistem klasikal yang pertama kali muncul di pondok pesantren Tebuireng pada tahun 1916 oleh kyai ma’shum, Sistem madrasah di pesantren Tebuireng ada tiga tingkatan yaitu madrasah Tsanawiyah yang setingkat dengan SLTP, dan Madrasah Aliyah yang setingkat dengan SLTA serta madrasah Al-Qur’an Menapaki akhir abad ke-20, Pesantren Tebuireng menambah beberapa unit pendidikan, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY, kini IKAHA). Bahkan unit-unit tersebut kini ditambah lagi dengan Madrasah Diniyah, Madrasah Mu’allimin, dan Ma’had Aly, disamping unit-unit penunjang lainnya seperti Unit Penerbitan Buku dan Majalah, Unit Koperasi, Unit Pengolahan Sampah, Poliklinik, Unit Penjamin Mutu, unit perpustakaan, dan lain sebagainya (akan dijelaskan kemudian). Semua unit tersebut (selain UNHASY), merupakan ikon dari eksistensi Pesantren Tebuireng sekarang..
B.     Saran
     Mempelajari karakteristik dari pondok pesantren lainnya merupakan sebuah ilmu baru sebagai sarana untuk membandingkan dan mengambil kebaikan untuk memperindah pesantren yang dimiliki sendiri, terutama pada sistem dan struktur kurikulum yang ada didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Atjeh, Aboebakar. Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan karangan Tersiar .Jakarta: Paniya Buku Peringatan Alm. Wahid Hasyim. 1957.
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai) Jakarta: LP3ES. 1990.
Damopoli, Mujiono, Dr. M. Ag., Pesantren Modern Immim. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2011.
Horokoshi, Hiroko. Kyai Dan Perubahan Social .Jakarta: P3M. 1987.
Mastuhu, Dinamika .Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS. 1994.
Nasir, M. Ridlwan Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren Ditengah Arue Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Pengurus pondok pesantren Tebuireng, Brosur Pondok Pesantren Tebuireng  .Tebuireng: 1975.
Qamar, Mujamil, Prof. Dr. Manajemen Pendidikan Islam., Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama.
Wahid, Abdurahman. Pesantren Sebagai Subkultur .Jakarta: LP3ES. 1983.
Sumber Lainnya

[6]Abdurahman Wahid, Pesantren Sebagai Subkultur (Jakarta: LP3ES, 1983), hlm. 39-40.
[7]Hiroko Horokoshi, Kyai Dan Perubahan Social (Jakarta: P3M, 1987), hlm. 188.
[8] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai) (Jakarta: LP3ES, 1990), hlm. 92.
[11] M. Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal Pondok Pesantren Ditengah Arue Perubahan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 316-322.

2 komentar: