Sabtu, 10 Oktober 2015

POPULASI DAN SAMPEL

 






  MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi  tugas mata kuliah  Metodologi Penelitian Semester VII B pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) As’adiyah Sengkang

Oleh :  Kelompok III
1.      Jusriadi                                   : 12220044
2.      Nurul Fadilah                                    : 12220040
3.      Pungky Purnamasari            : 12220041
4.      Reski                                       : 12220042
5.      Sri Suhesti                              : 12220043


 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AS’ADIYAH SENGKANG




KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT ,kami mohon ampun dan pertolongan hanya kepada-Nya. Shalawat serta salam selalu tercurah keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman kebodohan  ke zaman penuh ilmu pengetahuan yang berkat Ilmu itu penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Metodologi Penelitian dengan judul  “ Populasi dan Sampel  ”.
Terima Kasih yang tidak terhingga penulis haturkan kepada orang tua yang telah memberikan dukungan penuh kepada kami, begitu pula kepada Dosen Pembimbing, yang selalu memberikan kritik-kritik membangun demi terwujudnya penulis menjadi mahasiswa yang berguna .
Harapan besar  penulis semoga makalah ini dapat menjadi manfaat dan memberi beberapa wawasan baru bagi kami khususnya, teman-teman dan pada pembaca sekalian pada umumnya.
                                                                              Sengkang, 1 Oktober  2015
                                                                                Penulis

                                                         Kelompok III




DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................      1
A.         Latar Belakang Masalah................................................................      1
B.         Rumusan Masalah.............................................................................. 2

BAB II  POPULASI DAN SAMPEL.................................................................   3-10
A.        Populasi.........................................................................................     3
B.         Sampel...........................................................................................      4
BAB IV. PENUTUP............................................................................................ 17-19
A.        Kesimpulan....................................................................................     17
B.         Saran-saran  ..................................................................................     18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................     19

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah menentukan populasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat menganalisa data keseluruhan objek yang diteliti sebagai kumpulan atau komunitas tertentu. Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data terhadap objek.
Untuk dapat melaksanakan penelitian dengan baik, seorang peneliti harus memahami konsep populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan objek/subjek penelitian, sedangkan sampel merupakan sebagian atau wakil yang memiliki karakteristik representasi dari populasi. Untuk dapat menentukan atau menetapkan sampel yang tepat diperlukan pemahaman yang baik dari peneliti mengenai sampling, baik penentuan jumlah maupun dalam menentukan sampel mana yang diambil.  Kesalahan dalam menentukan populasi akan berakibat tidak tepatnya data yang dikumpulkan sehingga hasil penelitian pun tidak memiliki kualitas yang baik, tidak representatif, dan  tidak memiliki daya generalisasi yang baik.
Pemahaman peneliti mengenai populasi dan sampel merupakan hal yang esensial. Oleh karena itu diperlukan bahan bacaan atau sumber belajar yang menyajikan pengetahuan tentang populasi dan sampel tersebut. Atas dasar itu, makalah ini dikembangkan untuk memberikan wawasan kepada para calon peneliti, dan khususnya memperluas pengetahuan mengenai populasi dan sampel penelitian.
B.    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian populasi?
2.      Apa saja jenis-jenis populasi?
3.      Apa pengertian sampel?
4.      Bagaimana cirri-ciri sampel yang baik?
5.      Apa alasan menggunakan sampling?
6.      Apa keuntungan penggunaan sampel?
7.      Bagaimana teknik mengambil sampel?
8.      Bagaimana cara menentukan sampel?





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Populasi
1.      Pengertian Populasi
Menurut Margono (2010:118) populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya dalam Sugiyono (2006:117).
Menurut Muri (2007:182) secara umum dapat dikatakan beberapa karakteristik populasi adalah:
a.      Merupakan keseluruhan dari unit analisis sesuai dengan informasi yang akan diinginkan.
b.     Dapat berupa manusia/individu, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda atau objek maupun kejadian-kejadian yang terdapat dalam suatu area/ daerah tertentu yang telah ditetapkan.
c.       Merupakan batas-batas (boundary) yang mempunyai sifa-sifat tertentu yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan dari keadaan itu.
d.     Memberikan pedoman kepada apa atau siapa hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
2.      Jenis – Jenis Populasi
Menurut Muri (2007:183) Populasi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:
a.       Populasi terbatas (definite) yaitu objek penelitiannya dapat dihitung, seperti luas sawah, jumlah ternak, jumlah murid, dan jumlah mahasiswa.
b.      Populasi tak terbatas (infinite) yaitu objek penelitian yang mempunyai jumlah yang tak terbatas, atau sulit dihitung jumlahnya; seperti pasir di pantai.
Menurut Burhan Bungin (2005 ; 100) Dilihat dari kompleksitas objek populasi, maka populasi dapat dibedakan, populasi homogen dan populasi heterogen
a.       Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja.
b.      Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi uang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
B.     Sampel
1.      Pengertian Sampel
Menurut Muri (2007:186) secara sederhana dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Sedangkan menurut Suharsimi (2002:109), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Beberapa pendapat ahli tentang pengertian sampel adalah sebagai berikut:
a.      Sax (1979: 181) mengemukakan bahwa sampel adalah suatu jumlah yang terbatas dari unsur-unsur yang terpilih dari suatu populasi, unsur-unsur tersebut hendaklah mewakili populasi.
b.     Warwick (1975:69) mengemukakan pula bahwa sampel adalah sebagian dari suatu hal yang luas, yang khusus dipilih untuk mewakili keseluruhan.
c.      Kerlinger (1973:118) menyatakan: Sampling is taking any portion of a population or universe as representative of that population or universe.
d.     Leedy (1980:111) mengemukakan bahwa sampel dipilih dengan hati-hati sehingga dengan melalui cara sedemikian peneliti akan dapat melihat karakteristik total populasi.
2.      Ciri-Ciri Sampel yang Baik
Berangkat dari berbagi pendapat yang telah diutarakan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sampel yang baik adalah:
a.       Sampel dipilih dengan cara hati-hati; dengan menggunakan cara tertentu dan benar.
b.      Sampel harus mewakili populasi, sehingga gambaran yang diberikan mewakili keseluruhan karakteristik yang terdapat pada populasi.
c.       Besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima secara statistik.
3.      Alasan Sampling
Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel menurut Sudjana (2002:161) adalah :
a.       Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) beruppa parameter yang jumlahnya tidak diketahui  dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu  sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu.demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar ,tidak praktis untuk mengumpulkan  data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
b.      Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih –lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c.       Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam hal ini, lebih cepat.
d.      Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.
e.        Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat  dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
f.       Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian  sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi
4.      Keuntungan Penggunaan Sampel
Ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan sampel, yaitu:
a.       Biaya menjadi berkurang
b.      Lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data
c.       Lebih akurat
d.      Lebih luas ruang cakupan penelitian
5.    Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non Probability sampling. Probability sampling meliputi, simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area random. Non Probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling (Sugiyono, 2012:81).
1.  Probability Sampling
Teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a.  Simple Random Sampling
Teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling  di  dalam  suatu  populasi  tidak  terlalu  besar.  Misal,  populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 pendidikan matematika (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random.
b.  Proportionate Stratified Random Sampling
Digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis.  Menurut Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu  organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah  sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
c.  Disproportionate Stratified Random Sampling
Menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya kelas matematika yang menyukai materi bangun ruang 3 orang,  4 orang meyukai materi trigonometri, 20 orang menyukai materi persamaan linear, 35 orang menyukai statistika maka 3 orang yang menyukai bangun ruang, 4 orang yang menyukai trigonometri itu diambil semuanya sebagai sampel karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan materi persamaan linear dan statistika.
d.  Cluste Sampling (Area Sampling)
Digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila  objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Sugiyono (2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan  orang-orang  yang  ada  pada  daerah  itu  secara  sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.
2.  Nonprobability Sampling
Teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a.  Sampling Sistematis
Teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu.
b.  Sampling Kuota
Teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatah terpenuhi, pengumpulan data dihentikan.
c.  Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60).
d.  Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penlitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan pada penelitian kualitatif.
e.  Sampling Jenuh
Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus.
f.   Snowball Sampling
Snowball  sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula- mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih  teman- temannya untuk   dijadikan sampel. (Sugiyono, 2001: 61).
Menurut Margono (2004: 131) sampel harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.  Harus  meliputi  seluruh  unsur  sampel 
2.  Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali;
3.  Harus up to date.
4.  Batas-batasnya  harus  jelas,
5.  Harus dapat dilacak di lapangan;
6.    Menentukan Ukuran Sampel
Untuk menentukan jumlah sampel yang diambil, berikut beberapa formula yang ditawarkan oleh para ahli.
  1. Penentuan jumlah sampel menurut pendapat Hadari Nawawi
Keterangan:
n =  Jumlah sampel
p = Proporsi populasi persentase kelompok pertama
q = Proporsi sisa di dalam populasi
Z= Derajat koefisien konfidensi pada 99% dan 95%
b= Persentase perkiraan kemungkinan membuat  kekeliruan dalam menentukan ukuran sampel
contoh:
Jika diketahui jumlah populasi guru matematika SMA lulusan D3 di Jateng adalah 400.000 orang. Di antara mereka yang tinggal di daerah pedesaan (luar kota) sebanyak 50.000 orang. Berapa sampel yang perlu diselidiki dalam rangka mengungkapkan hambatan penanaman disiplin sekolah di wilayah masing-masing.
Perhitungan:
p =

atau p = 0,125
q     = 1,00-0,125 = 0,875
Z ½ = 1,96 (pada derajat konfidensi 99% atau 0,05)
b     = 5% atau 0,05
Dimasukkan ke dalam rumus sebagai berikut:
n≥ 0,125 x 0,875
n≥ 1.740,21 dibulatkan 1740 orang
Apabila proporsi di dalam populasi yang tersedia tidak diketahui maka variasi p dan q dapat mengganti dengan harga maksimum, yakni (0,50 × 0,50 =0,25). Ukuran sampel yang harus diselidiki:
n≥ 0,25
n≥ 384
2.      Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Tabel Krejcie
Salah satu teknik untuk menghitung jumlah sampel minimal yang harus dijadikan sasaran penelitian adalah dengan menggunakan tabel Krejcie. Krecjie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Tabel Krecjie ditunjukkan dalam tabel di bawah ini. Dari  tabel itu terlihat bila jumlah populasi 100 maka sampelnya 80, bila populasi 1000 maka sampelnya 278, bila populasinya 10.000 maka sampelnya 370, dan bila jumlah populasi 100.000 maka jumlah sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi makin kecil prosentase sampel. Oleh karena itu tidak tepat bila ukuran populasinya berbeda prosentase sampelnya sama, misalnya 10%.
TABEL KREJCIE
Contoh penghitungan:
Penelitian akan dilakukan terhadap iklim kerja suatu organisasi. Sumber data yang digunakan adalah para pegawai yang ada pada organisasi tersebut (populasi). Jumlah pegawainya 1000 terdiri atas lulusan S1 = 50 orang, Sarjana muda = 300, SMK = 100, SD = 50 (poplasi berstrata).  Jumlah populasi = 1000. Bila kesalahan 5%, maka jumlah sampelnya = 278. Karena populasi berstrata, maka sampelnya juga berstrata. Stratanya menurut tingkat pendidikan. Dengan demikian masing-masing sampel untuk  tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan populasi. Jadi jumlah sampel untuk:
S1 =
SM =
SMK =
SMP =
SD =
Jadi jumlah sampelnya = 14 + 83 + 139 + 28 + 14 = 278
Pada perhitungan yang terdapat koma dibulatkan ke atas sehingga  jumlah sampelnya lebih 278 yaitu 280. Hal ini lebih aman daripada kurang dari 278.
3.      Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Nomogram Harry King
Harry King menghitung sampel tidak hanya didasarkan atas kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15%. Tetapi jumlah populasi paling tinggi hanya 2000. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Dari gambar tersebut diberikan pula contoh bila populasi 200, kepercayaan sampel dalam mewakili populasi 95%, maka jumlah sampelnya sekitar 58% dari populasi. Jadi 0,58 × 200 = 116. Bila populasi 800, kepercayaan sampel 90% atau kesalahan 10%, maka jumlah sampel = 7,5% dari populasi. Jadi  0,075 × 800 = 60. terlihat di sini semakin besar kesalahan akan semakin kecil jumlah sampel. Gambar Nomogram Harry King di bawah ini.
 
Contoh: misal populasi berjumlah 200. Bila dikehendaki kepercayaan sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka jumlah  sampel yang diambil 0,58 × 200 = 16 orang. (Tarik dari angka 200 melewati taraf kesalahan 5%, maka akan ditemukan titik di atas angka 60. Titik itu kurang lebih 58).




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
2.      Jenis-jenis populasi yaitu Populasi terbatas (definite) dan Populasi tak terbatas (infinite), menurut sifatnya ada yang Homogen dan ada yang Heterogen.
3.       Sampel ialah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
4.      Ciri – Ciri sampel yang baik yaitu (1) Sampel dipilih dengan cara hati-hati; (2) Sampel harus mewakili populasi; (3) Besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan yang dapat diterima secara statistik.
5.      Alasan menggunakan sampling yaitu :  (1)Ukuran populasi ;(2) Masalah biaya ;(3)Masalah waktu; (4)Percobaan yang sifatnya merusak; (5) Masalah ketelitian; (6)Masalah ekonomi
6.      Keuntungan penggunaan sampel yaitu : (1)Biaya menjadi berkurang; (2) Lebih cepat dalam pengumpulan dan pengolahan data; (3) Lebih akurat; (4) Lebih luas ruang cakupan penelitian.
7.      Teknik  mengambil sampel? Teknik sampling pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Non Probability sampling. Probability sampling meliputi, simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area random. Non Probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling.
8.      Cara menentukan sampel diantaranya yaitu : (1) Penentuan jumlah sampel menurut pendapat Hadari Nawawi dengan rumus : (2) Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Tabel Krejcie.; (3). Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Nomogram Harry King.
B.     Saran-Saran
Sebagai seorang mahasiswa yang mengkhususkan diri dalam bidang , pendidikan dan akan mencapai akhir dari pendidikan, terutama dalam masa PPL ini , maka sepatutnya ilmu ini di aplikasikan dan di fahami dengan sebaik-baiknya.


DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudjana. 2005, Metoda Statistika, Bandung : Tarsito
Burhan Bungin, (2005),  Metode Penelitian Kuantitatif, Jakarta: Kencana
H.Hadari Nawawi. 1983. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Margono .2010, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Muri. A Yusuf. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.
Nana Sudjana. 2002. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru.
Nazir. 2005. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto.2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta : PT.Bina Aksara
Sumber Lainnya :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar